Rabu, 02 Juni 2010

CINTA PABALIUT

Novel karangan Eddy D. Iskandar, diterbitkan oleh Pustaka Dasentra, bandung, tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 79 halaman.
Dalam novel ini, pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan pendidikan. Cinta terhadap kebudayaan dapat timbul akibat cinta kepada pelakunya. Cinta dapat putus daripada putus persahabatan. Cinta dapat membara karena sering berjumpa. Novel ini menggambarkan suasana lingkungansekolah dan lingkungan seni, yang diungkapkan dengan penuh romantis dalam dialog

Ringkasan Ceritera
Jaka jatuh cinta pada Titut Kartasasmita, murid kelas tiga SMA teman sekelasnya. Jaka memuji Titut, tetpi Titut tetap menolak cinta Jaka.
Titut dinasehati oleh ibunya supaya tidak terganggu sekolahnya dan jangan terbawa pergaulan bebas, masalah memilih calon suami pun harus diutamakan keturunan, rajin ibadah, cintanya sejati, serta harta juga harus diperhatikan.
Titut diajak melihat pembacaan sajak oleh Imas, teman sekelasnya. Namun, di perjalanan sepeda motor Imas mogok dan diperbaiki oleh seorang pemuda. Tiba-tiba Titut mulai jatuh cinta pada pemuda itu.
Di tempat parade Panyajak Sunda 1982, Titut semakin tertarik kepada pemuda yang memperbaiki motor itu, Darma Kancana namanya. Titut sempat mengucapkan selamat serta kenalan kepada Darma setelah Darma membacakan sajak. Darma Kencana adalah mahasiswa Fakultas Sastra Sunda yang disenangi teman-temannya, Nia dan Meiske yang cantik pun tertarik pada Darma. Namun Darma tidak meresponnya. Titut dan Imas dapat bertemu lagi dengan Darma di depan pintu bioskop.
Jaka mencoba kesungguhan Titut di kelas, apakah Titut mencintai Jaka atau tidak; kalau Titut tidak mencintai Jaka, yang akan mengalihkan cintanya pada Imas, teman Titut.
Imas dan Titut datang pada acara Pagelaran Seni Sunda Dasentra 1983 dan melihat Darma Kancana tampil dalam acara itu. Titut menyesal tidak mempunyai kesempatan menemui Darma Kancana.
Titut semakin menyenangi kesenian Sunda dan mendapat pujian dari orang tuanya yang menaruh simpati pada seni Sunda. Imas menyenangi seni Sunda sejak kecil sebab ayahnya adalah Pembina Kesenian Tradisional Daerah.
Darma Kancana datang ke rumah Imas untuk menemui Angkawijaya memperbincangkan gending karesmen Sangkuriang kabeurangan.
Titut bertemu dengan Darma Kancana di lapang olahraga dan sempat bertanya. Nia pun dapat berdialog dengan Darma dengan alasan minta diajari mengarang.
Titut berkunjung ke kampung halaman Imas di Neglasari Ciwidey. Tanpa diduga-duga ia dapat bertemu dengan Darma. Titut pernah berbicara berdua dengan darma di sawah. Namun, masalah cinta belum dapat disinggung-singgung.
Kedatangan Darma Kancana ke rumah Imas semakin sering. Semula Imas tidak mempunyai curiga apa-apa. Empat malam Minggu berturut-turut berkunjung pada Imas. Imas pernah diajak menonton dan masuk restoran. Akhirnya Darma terus terang pada Imas melalui surat menyatakan cinta. Imas heran sebab semula Darma ini akan menjadi pacar Titut, walaupun begitu sebenarnya Imas juga cinta kepada Darma. Keputusan Imas lebih baik tidak menerima cinta Darma daripada putus persahabatan dengan Titut; Imas tahu Titut sangat mencintai Darma Kancana.
Jaka yang sudah lama jatuh cinta pada Titut, datang malam Minggu ke rumah Imas minta diantar main ke rumah Titut.
Rasa asmara Jaka yang sudah bergejolak, terhenti ketika mau masuk ke rumah Titut sebab sudah ada pemuda yang baru masuk yaitu Darma. Jaka menyesal dan bingung. Ia pulang kembali bersma Imas dengan membawa rasa kesal.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar