Rabu, 02 Juni 2010

DIWADALKEUN KA SILUMAN

Sebuah kumpulan carita pondok (carpon)atau cerita pendek karya Ki Umbara. Diterbitkan di Bandung tahun 1965 dan tebalnya 80 halaman. Di dalamnya terkumpul empat buah cerita pendek yang sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah Mangle. Keempat ceritera pendek itu ialah: Kasilib, Diwadalkeun ka Siluman, Mindahkeun Jurig dan Kiai Bantalwulung. Keempat cerita pendek itu mengisahkan peristiwa yang menyertakan mahluk halus (siluman). Cerita pendek Kasilib pernah mendapat hadiah II hadiah Sastra Mangle pada tahun 1968. di samping dalam kumpulan ini, cerita itu diantologikan pula dalam “sawelas Carita Pondok”
Cerita pendek Diwadalkeun ka Siluman (Dikorbankan kepada setan) direkam oleh ‘aku’ berdasarkan penuturan Imong dan istrinya, yang dalam usia lanjut dikenal dengan nama julukan Mang Merebot dan Bi Merebot, tentang peristiwa aneh yang dialami mereka.
Konon tersebut Babah Lintuh (gemuk) yang sangat kaya dari bertani ubi kayu dan sabrang. Ratusan hetar tanah disewa dari penduduk dengan cara bayar di muka sehingga mereka terbelenggu oleh utang kepada lintah darat itu. Tersebar secara bidik-bisik bahwa orang cina itu nyupang memuja mahluk halus ke Warudoyong. Tiap enam bulan ia harus mengorbankan jiwa. Yang dikorbankannya ialah paburunya (penjaga kebun), mati setelah tiba-tiba sakit.
Imong yang miskin melamar pekerjaan kepada Babah Lintuh itu. Ia segera diterima sebagai paburu karena Imong diketahui sebagai cucu Aki Malendra yang terkenal amat pekerjaan. Imong ditempatkan di hutan Bulak Panjang, perkebunan sabrang. Setelah bekerja beberapa lama, ia tiba-tiba sakit dan berusaha pulang. Penyakitnya makin lama makin berat, badannya panas dan ia mengigau, serta memperlihatkan gerakan-gerakan aneh.
Dalam keadaan gawat seperti itu, Waria datang tergopoh-gopoh memberitahukan bahwa ia baru saja melihat Imong diseret oleh tiga orang gulang-gulang (ponggawa) siluman, dinaikkan ke atas kuda belang (sebutan untuk kuda yang biasa menjadi tunggangan korban). Mendengar berita itu, istri Imong segera berlari hendak mencari gulang-gulang yang melarikan suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.
Imong ternyata dibawa ke tempat pemujaan Warudoyong. Ia dituduh telah menerima rezeki lebih dan berutang kepada Babah Lintuh. Di sana ia dihadapkan kepada Demang Bincurangherang, raja siluman Warudoyong, dan kemudian dipenjarakan. Penjara itu sangat aneh, segalanya terbuat dari tubuh manusia dalam keadaan dipaku dan tersiksa secara mengerikan. Mereka itu semuanya adalah orang-orang yang dikenali oleh Imong. Selama berada dalam penjara itu, Imong melakukan salat dan menyebut Allah.
Demang Bincurangherang, yang membuka tempat pemujaan itu untuk membalas dendam kepda manusia, tidak lama kemudian mati. Ia diganti oleh putrinya yang bernama Nyimas Damarcaang. Putri ini adalah jin Islam karena sejak kecil ia dipelihara oleh kakeknya yang bernama Kaliwon Tamiang ropoh. Dalam pemeriksaan, Imong menerangkan makna nama putri jin itu serta menyatakan keteguhan kepada Allah. Akhirnya, Nyimas Damarcaang menyuruh semua rakyatnya beralih memeluk Islam, dan kemudian membubarkan tempat pemujaan Warudoyong. Setelah itu, Imong kembali ke jasadnya yang telah kurus kering karena menderita sakit yang demikian lama.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

PANGERAN NAMPABAYA

Sebuah roman sejarah dikarang oleh Yuhana, diterbitkan oleh Penerbit Dakhlan Bekti pada tahun 1930. ukuran buku lebih kurang 13 cm x 19 cm, terdiri atas 44 halaman, dengan ukuran huruf 10 punt.
Harga perjilid 50 sen. Tersimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land – en Volkenhunde di Leiden. Belanda.

Ringkasan Ceritera
Kota Ciranjang sekarang mula-mula termasuk daerah bandung, tetapi sejak tahun 1902 termasuk wilayah Cianjur. Nama Ciranjang dipakai mulai tahun 1912, karena sebelumnya daerah itu disebut Cihea.
Konon yang mula-mula mendirikan keraton di Cihea adalah raja Majapahit yang bernama Prabu Jaka Susuruh atau Prabu Hariang Banga, yang namanya sering disebut dalam ceritera Pantun Sunda. Raja ini terdesak dari kerajaan Pajajaran, yang dikatakan oleh adiknya sendiri yang bernama Ciung Wanara, dan kemudian mundur dan bertahan di Cihea. Tetapi lama kemudian wilayah-wilayah ini ditinggalkannya. Bekas-bekas kerajaannya seperti keraton, tempat mandi raja, alun-alun, benteng-benteng dan sebagainya, sampai sekarang masih ditemukan di kampung Susuruh di daerah Desa Sukarame sekarang.
Di samping Raja Susuruh, yang pernah menguasai daerah Cihea ini juga seorang keturunan Pajajaran yang bernama Raden Rangga Gading. Bekas-bekas peninggalannya ditemukan di kampung Panghiasan, desa Gunung Halu sekarang, berupa bekas-bekas keraton, pecahan benda-benda dari kaca, piring, dan mangkuk-mangkuk kuno yang diduga buatan Cina. Setelah raja ini meninggalkan Cihea, kurang lebih tahun 1380, daerah itu menghutan kembali.
Pada tahun 1645 ada pendatang baru ke sana, Prabu Cakrakusumah atau Sultan Agung dari Mataram pada waktu itu telah menguasai pesisir utara tanah Sunda dengan Sungai Citarum sebagai batasnya, bagian barat dikuasai Sultan Banten. Penguasaan atas daerah itu sudah berlangsung sejak pendahulu Sultan Agung atau sejak tahun 1585. sultan Agung sebenarnya berkeinginan untuk meluaskan wilayahnya itu ke arah barat, sejalan dengan cita-citanya ingin menguasai seluruh pulau Jawa. Namun, dengan Sultan Banten itu telah berlangsung persahabatan lama.
Sultan Agung kemudian, membuka pemukiman-pemukiman di daerah perbatasan itu untuk mengawasi bupati-bupati Sunda kalau-kalau mereka memberontak. Di samping itu para penghuninya ditugaskan menyiapkan perbekalan hasil bumi.
Sesudah tahun 1645, Sultan Agung mengutus dua orang pembesar yang cakap untuk membuka tanah koloni di sepanjang sungai Citarum ke arah hulu. Kedua pembesar yang terpilih adalah Tumenggung Nampabaya dan Tumenggung Lirbaya, kakak beradik, yang selanjutnya disebut pangeran karena mereka memang keturunan pangeran, masih kerabat Pangeran Purbaya yang dikisahkan dalam Babad Batawi. Kedua utusan itu berangkat dengan dua orang pengiring yang setia ialah Nayakerta dan Nayakerti. Mereka berangkat dari Mataram melewati daerah Banyumas, Tegal, Cirebon, Sumedang, Parakan Muncang, Majalaya, Ciparay, Manggahang, banjaran, Soreang, Cipatik, dan Batulayang. Di daerah-daerah yang dilewati itu mereka mendapat sambutan bersahabat dan kehormatan. Mereka paling lama tinggal di wilayah Batulayang karena daerah ini adalah batas paling barat wilayah Mataram. Dalem Batulayang terkenal cakap mengurus rakyatnya dan amat disegani.
Pangeran Nurbaya dan Pangeran Lirbaya serta pengiringnya berangkat meninggalkan Batulayang untuk menjalankan perintah Sultan Agung. Selama dalam perjalanan, ia mengetahui bahwa aliran Sungai Citarum sesungguhnya banyak berkelok ke arah timur, yang berarti “menggerogoti” wilayah Mataram. Setelah jauh mengikuti aliran Citarum, melalui Curugagung, Cikalong, dan Leuwiliang maka sampailah ke hutan Cihea. Mereka beristirahat di atas batu besar di tepi sungai. Ketika mereka tertidur, keduanya terhanyutkan banjir yang datang secara tiba-tiba, akhirnya terdampar jauh di hilir. Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya mendapat impian yang sama. Mereka didatangi seorang kakek-kakek yang memberi petunjuk agar kembali ke arah hulu tempat beristirahat tadi.
Dalam rangkaian peristiwa selama perjalanan itulah terjadinya sasakala (cerita asal-muasal) beberapa nama tempat, antara lain kampung Batununggal, Cihea, Pasir Tangkolo, Nyampay, Pangkalan, Batu Tumenggung, kali Cinungnang, dan kampung Pasanggrahan. Kemudian terbentanglah daerah Cihea menjadi negeri yang ramai. Dalem Nampabaya memerintah negeri dengan baik, adil, dan bijaksana. Sebagai patihnya ialah Pangeran Lirbaya.
Dalem Nampabaya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Nerangbaya. Ia seorang pemuda cakap

LEMBUR SINGKUR

Novel karangan Abdullah Mustappa, diterbitkan oleh Mitra Kancana di Bandung, tahun 1980. buku ini berukuran 17 cm x 12 cm, tbal 59 halaman
Dalam novel ini pengarang mengungkapkan konflik batin para pelaku, terutama pelaku utama “kuring” (aku), yang mengalami cobaan hidup tidak henti-hentinya. Tragedi keluarga itu bermula setelah suami dan ayah mereka pergi ke hutan menjadi anggota gerombolan DI. Namun keluarga itu menghadapinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
Novel ini dilatarbelakangi kehidupan masyarakat sebuah kampung terpencil (lembur singkur) yang jauh dari kota yang terus menerus diganggu gerombolan, terutama pada malam hari.
Pengarang bercerita dengan menggunakan gaya aku tentang sebuah keluarga yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan suami/bapaknya karena masuk hutan mengikuti gerombolan. Seorang ibu dan tiga orang anaknya, yaitu Hadi, Ahmad dan kuring sudah sangat mendambakan kembalinya ayah ke rumah, tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang karena meninggal di hutan
Pemilihan dan pengolahan kata-kata yang disusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana, mencerminkan kesederhanaan para pelaku dalam novel ini.

Ringkasan Ceritera
Di sebuah kampung yang terpencil dan jauh dari kota, tinggalah sebuah keluarga, yang terdiri atas ibu dan tiga orang anak yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan oleh suami/bapaknya karena ia masuk hutan menjadi anggota gerombolan DI.
Tokoh utama kuring (aku), sudah sangat mendambakan hadirnya seorang ayah di rumah. Tokoh kuring belum pernah mengenal wajah ayahnya karena ketika ia ditinggal pergi ke hutan ia masih bayi. Tokoh kuring sering bertanya tentang ihwal ayahnya, baik kepada ibunya maupun kepada kakaknya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Seorang laki-laki pernah ada secara sembunyi-sembunyi memasuki rumah pada tengah malam, tetapi tokoh kuring tidak mengenalnya. Menurut kakaknya, orang itu adalah ayah mereka.
Oleh karena ulah sang ayah yang menjadi anggota gerombolan, keluarga itu tidak henti-hentinya dirundung malang’ dicurigai tentara, ditahan di markas tentara, dianggap mata-mata, disiksa, dan berbagai penderitaaan lainnya.
Setelah kampung menjadi aman, banyak gerombolan yang turun dari hutan menyerahkan diri kepada tentara. Ibu dan anak-anaknya dibebaskan dari tahanan. Mereka berharap di antara gerombolan yang menyerah itu akan terdapat suami/ayah mereka. Namun setelah mereka bertanya ke sana ke mari, hanya berita kematian saja yang didapatnya.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

MANUK HIBER KU JANGJANGNA

Novel karangan Soeratmi Soedir Soewandi, diterbitkan oleh Pusaka Sunda di Bandung tahun 1965. buku ini berukuran 21 x 15 cm, tebal 72 halaman serta berbentuk prosa dan puisi (pupuh).
Dalam novel ini pengarang mengemukakan nilai-nilai pendidikan yang diungkapkan melalui perjuangan hidup tokoh utama, seorang anak laki-laki yang ingin keluar dari himpitan kesengsaraan sehingga menjadi orang yang hidup senang.
Pelaku utama, Rahim digambarkan oleh pengarang sebagai seorang anak yang ideal, yang kelakuannya tanpa cacat, ia teladan, baik budi, soleh, rajin, pandai, dan terampil. Rahim digambarkan oleh pengarang sebagai seorang anak yang mulus tanpa sipat-sipat kenakalan sebagaimana lajimnya seorang anak.
Novel ini dilatarbelakangi kehidupan kampung yang tdak aman, karena gangguan gerombolan dan kemudian pindah ke kota.

Ringkasan Ceritera
Pada suatu malam, kampung Madhasim, sebuah kampung yang jauh dari kota yang selalu menjadi sasaran gangguan gerombolan, diserang gerombolan. Rumah-rumah dibakar, penghuninya dibunuh, dan harta bendanya dirampok. Madhasim tertembak dan akhirnya tewas setelah sempat dirawat di klinik para tentara.
Sepeninggal Madhasim, keluarganya jatuh miskin dan terlunta-lunta. Ahmad, anaknya yang sulung pergi mengadu nasib ke kota, sedangkan Rahim adik Ahmad, menumpang hidup pada keluarga Mantri Guru.
Keluarga Mantri Guru sangat menyayangi Rahim. Dia disuruh sekolah bersama-sama dengan Maman, anaknya yang sebaya dengan Rahim. Rahim adalah seorang anak yang jujur, rajin, terampil, cerdas, cekatan, dan tahu akan tugas yang diberikan kepadanya. Di sekolah, dia mempunyai kemampuan yang menonjol dalam mengarang. Tulisannya kadang-kadang dimuat dalam surat kabar, khusus kolom bacaan anak-anak. Honorarium yang ia terima ditabungkannya pada sebuah celengan.
Pada suatu waktu Mantri Guru pindah tugas ke kota, Rahim pun mengikutinya. Maman melanjutkan sekolah ke SMP, sedangkan Rahim ke SGB, karena SGB menyediakan ikatan dinas yang dapat meringankan beban biaya sekolah. Setelah Rahim lulus SGB, ia diangkat menjadi guru sekolah di kota kecil.
Rahim mengajar dengan sungguh-sungguh. Setelah ada kesempatan memanfaatkan waktu luang dia mendaftarkan diri untuk mengikui kurus persamaan SGA. Hidup Rahim mulai senang; uang gaji disisihkannya sebagian untuk membiayai hidup ibunya.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

MUGIRI

Sebuah novel karangan Yuhana (nama samaran), diterbitkan di Bandung oleh penerbit (toko buku) Kusradie tahun 1928. novel ini terdiri dari 2 jilid, yang masing-masing berisi 39 dan 35 halaman. Novel ini pernah dimuat kembali sebagai ceritera bersambung dalam Majalah Sunda mulai tahun I (32), Oktober 1965. di samping itu, pada tahun 1966 pernah diiklankan oleh penerbit Duta Rakyat, Bandung bahwa akan diterbitkan kembali dalam bentuk buku. Ajip Rosidi (1929; 1983; 119 – 138) membicarakan novel ini dalam tinjauan kritiknya mengenai karya-karya Yuhana yang bertema protes, Tini Kartini dan kawan-kawan (1979), M.A. Salmun (1963:142) secara sepintas membicarakan novel-novel Yuhana yang bertemakan menolak pergaulan bebas tanpa batas, dan Iskandar Wassid (1979 ) mempelajari novel ini dalam usaha menemukan struktur novel-novel Yuhana. Pemakaian judul Mugiri diambil dari nama salah seorang tokoh dalam ceritera ini.

Ringkasan Ceritera
Siti Rakhmah anak tunggal Raden Surya, seorang jurnalis. Selain telah menamatkan sekolah, anak gadis ini telah selesai pula mengikuti kursus mengetik. Keluarga Raden Surya menempati sebuah rumah mungil yang berhalaman luas di desa Cipaganti, bandung Utara.
Rumah itu terletak berseberangan dengan Situ Bunjali, tempat anak-anak muda bersantai menghabiskan malam minggunya.
Siti Rakhmah sangat ingin berada di tengah kesenangan seperti itu, tetapi takut akan larangan orang tuanya. Dalam keadaan seperti itulah kemudian ia secara sembunyi-sembunyi berhubungan dengan Gan Adung. Seorang pemuda bekas temannya kursus mengetik. Keduanya saling berjanji untuk hidup berdampingan dan Gan Adung telah menyatakan niatnya untuk segera meminang Rakhimah. Apabila lamaran itu ditolak, Siti Rakhmah bersedia dilarikan.
Lamaran Gan Adung ternyata ditolak setelah Raden Surya menelitinya selama hampir sebulan dan terbukti bahwa calon menantunya itu telah memberikan pengakuan-pengakuan bohong, di samping sikapnya yang sombong. Istri Raden Surya menyangsikan kebenaran keterangan-keterangan yang diperoleh suaminya itu.
Pada suatu malam Siti Rakhmah dilarikan oleh Gan Adung dengan kawalan Karta, orang kepercayaannya dalam memelihara ayam sabung. Beberapa saat sebelumnya, Siti Rakhmah sempat dahulu menyampaikan keterangan-keterangan ayahnya, tetapi Gan Adung memungkirinya diertai janji-janji penuh rayuan. Siti Rakhmah dititipkan pada seorang perempuan tua di Babakan Ciparay yang rumahnya terpencil dari tetangga. Bi Sarni, nama perempuan itu, dan Karta menyatakan janjinya akan menjaga Siti Rakhmah dengan baik.
Minggatnya Siti Rakhmah diketahui keesokan harinya. Ibunya sangat sedih dan bingung, sedangkan Raden Surya bersikap tenang dan memutuskan untuk tidak mencarinya karena pelarian itu ternyata atas keinginan anaknya pula. Ia berpendapat lebih baik tidak mempunyai anak daripada mempunyai anak bertingkah buruk dan memalukan, padahal seorang anak yang ilmunya cukup dan berpendidikan.
Kebahagiaan Rakhmah hidup bersma dengan Gan Adung di persembunyiannya itu hanya berlangsung satu sampai dua bulan. Mereka kemudian menikah setelah Gan Adung beberapa kali mengundurkannya dengan berbagai alasan. Selanjutnya, gan Adung sering bepergian dan jarang pulang. Akhirnya ia tidak pernah lagi membawa uang gaji. Perhiasan dan barang-barang Siti Rakhmah berangsur-angsur masuk rumah gadai, sampai akhirnya pakaian yang tersisa pun hanyalah yang melekat pada tubuhnya. Setelah satu setengah tahun berumah tangga, hamilnya pun genaplah sembilan bulan. Bi Sarni, orang yang ditumpanginya, sudah sejak lama mulai berbudi kecut dan berkata kasar kepadanya. Pada suatu hari malah secara langsung ia mengusir Siti Rakhmah dengan kata-kata yang menyakitkan. Kedatangan Karta pada waktu itu malah menambah kepedihan hatinya. Karta berbisik pada Bi Sarni bahwa Gan Adung telah mempunyai wanita lain, seorang janda kaya yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya.
Pada saat-saat yang menegangkan seperti itu, datang ke sana Tuan Gulam Kodir, seorang rentenir dan tukang kredit bahan pakaian. Rasa jengkelnya kepada Bi Sarni yang selalu menghindar dari tagihan mendadak hilang setelah diperkenalkan kepada Siti Rakhmah. Atas janji Bi Sarni untuk menyerahkan Rakhmah, akhirnya Tuan Gulam Kodir membebaskan semua piutangnya dan menghadiahkan dua potong kain yang diminta Bi Sarni dan Karta. Dengan sisat Bi Sarni dan setahu Gan Adung, akhirnya Siti dituduh telah berbuat serong dengan Tuan Gulam Kodir. Sebagai buktinya ialah kedua potong kain itu, yang ditemukan di bawah tikar tempat tidur Siti Rakhmah. Gan Adung menyiksa dan dengan paksa mengusir istrinya pada malam hari di tengah hujan lebat, angin, dan halilintar.
Berangkatlah Siti Rakhmah, meninggalkan rumah itu, melewati kampung Situ Saeur, daerah Cipaganti, Lembang dan Cikidang. Sebelum sampai ke Cikawati, perutnya mulai terasa mulas hendak melahirkan. Akhirnya, ia dengan selamat melahirkan di sebuah dangau di tengah kebun jagung, bayinya ditinggalkan di sana. Bayi itu kemudian ditemukan oleh Bapa Ispa dan Ambu Ispa, pengurus kebun itu, lalu diserahkan kepada Mas Wiria pemilik tanah itu yang tinggal di Bandung. Anak itu kemudian diberi nama Mugiri untuk mengenang bahwa ia ditemukan di Gunung (Giri).
Siti Rakhmah sampai ke pasar Cikawari yang terletak di depan gudang kopi, lalu duduk di belakang sebuah jongko. Di sana ia diusir pedagang dengan tuduhan sering mencuri barang dagangannya. Rakhmah menyingkir, berteduh di bawah sebuah pohon. Di situlah ia terkenang akan nasihat-nasihat ayahnya yang berkata bahwa ayahnya tidaklah hendak memaksa dalam menentukan pilihan pasangan hidup anaknya, tetapi anak sendiri harus matang memperhitungkannya supaya tidak berakhir dengan penyesalan. Di situ pula ia ingat akan kebengisan suaminya. Oleh karena kuatnya lamunan itu akhirnya Rakhmah mengamuk, bertingkah seperti orang gila. Ia ditangkap beramai-ramai, disekap dalam sebuah kamar kosong di rumah seorang pensiunan lurah. Kemudian ia dijadikan pembantunya, tetapi tiga bulan kemudian terpaksa harus pergi lagi karena ternyata lurah itu telah memaksanya untuk dijadikan istri muda.
Siti Rakhmah sampai ke Puncak Eurad, sebuah kampung di gunung, perbatasan antara Bandung dan Karawang. Ia diangkat anak dan bekerja pada Mak Ijah, seorang perempuan tua penjual cendol. Setelah enam bulan berlalu, berangkatlah keduanya ke Subang. Mak Ijah bermaksud menengok anaknya, Juki yang bekerja sebagai mandor pabrik tapioka di sana. Siti Rakhmah ternyata dapat diterima sebagai juru tik di tempat Juki bekerja setelah di tes langsung oleh pemimpinnya seorang Belanda. Oleh karena Siti Rakhmat fasih pula berbahasa Belanda, langsung ia memperoleh gaji besar dan karena hematnya ia berhasil membeli tanah dan memiliki rumah sendiri. Ia selalu ingat akan nasihat-nasihat Mak Ijah, selalu berdoa untuk anaknya, serta berkeinginan bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.
Mugiri dimasukkan ke HIS partikelir oleh ayah angkatnya, kemudian dilanjutkan ke TS (sekolah pertukangan) agar kelak dapat menjadi opzichter atau montir. Menurut pikiran ayah angkatnya, bekerja seperti itu dapat merdeka. Sehari-hari ia terutama dididik akan kebaikan, kemanusiaan, menyayangi bangsanya, dan menolong orang yang sengsara. Ia pun dimasukkan pula kedalam perkumpulan Palvinder Nonoman Indonesia (PNI) dan diharuskan belajar olah raga. Sementara Mugiri di TS, ibu angkatnya menderita sakit, kemudian meninggal. Di samping mengucapkan beberapa amanat, sebelum meninggal ibu angkatnya berdoa agar Mugiri dipertemukan kembali dengan ibu kandungnya.
Setelah lama hidup dalam kesenangan. Siti Rakhmah, Mak Ijah, serta Juki sekeluarga berangkat dari Subang menuju Puncak Eurad, Cikawati dan mengunjungi dangau tempat Mugiri dilahirkan. Kepada penggarap kebun, Siti Rakhmah menyatakan niatnya untuk membeli kebun itu. Di tempat itu akhirnya ia bertemu dengan pemilik kebun itu, yaitu Mas Wiria beserta Mugiri. Atas desakan Mas Wiria, yang berpura-pura tidak mau menjual kebun itu, akhirnya Siti Rakhmah terpaksa berterus terang menceritakan kisah hidupnya mengapa ia berkeras hendak membeli kebuin itu. Kemudian terbukalah rahasia Siti Rakhmah bahwa Mugiri adalah bayi yang dulu ditinggalkannya. Tidak lama kemudian setelah Siti Rakhmah disahkan perceraiannya dengan suaminya oleh pengadilan agama Islam, ia pun menikah dengan Mas Wiria, kemudian pindah ke Bandung. Namun, tiga tahun kemudian Mas Wiria meninggal.
Sementara ibu dan anak masih dalam suasana berkabung, terjadilah usaha penggarongan ke rumahnya karena terdengar jumlah warisan yang mereka miliki. Kedua pencuri itu ternyata Gan Adung dan Karta. Dalam pergumulan malam itu Gan Adung tertikam oleh pisau Karta. Sebelum ia menghembuskan napas terakhir, ia masih dikenali oleh Siti Rakhmah dan masih sempat diberitahu bahwa Mugiri adalah anaknya.
Siti Rakhmah akhirnya kembali kepada orang tuanya dan diterima oleh mereka dengan penuh kegembiraan bercampur kesedihan.


PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

NEANGAN

Sebuah kumpulan carita pondok (ceritera pendek) karangan Caraka (nama samaran), diterbitkan di Bandung oleh penerbit Kiwari tahun 1962, dan tebal 104 halaman. Dalam buku ini dimuat empat buah cerita pendk, berturut-turut dengan judul  “Neangan” (mencari) “Pacul” (Cangkul) “Pikun” (pikun) “Minantu” (menantu).
Sebelum dibukukan dua buah diantaranya pernah dimuat dalam majalah, yaitu “Pacul” pada majalah Sunda II (24), 31 Agustus 1953 dan “Neangan”, majalah Sunda III (11/12), 20 dan 30 April 1954. ceritera pendek “Neangan” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diantologikan bersama sembilan cerpen Sunda lainnya (Rosidi, 1970), Ajip Rosidi (1966: 152-153): 1983: 178-183) menyajikan tinjauan kritik atas cerpen-cerpen yang dimuat dalam kumpulan ini.

Ringkasan Ceritera
Carita pendek “Neangan” menceritakan tokoh “aku” yang mulai jemu dengan kehidupan pegawai kantor yang rutin, yang serba terikat oleh ketentuan waktu. Dalam masa cuti, ia mencoba mencari adakah gerangan kehidupan lain yang serba lepas dan bebas.
Ia memulai perjalanannya dengan naik kereta api dan berhenti di sebuah stasiun, di mana telah terlihat pemandangan yang menarik, bukit-bukit kecil dengan jalan yang berkelok-kelok. Dengan menyusuri jalan setapak diantara kebun, akhirnya ia sampai ke sebuah ladang yang sedang diolah. Ia duduk berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang. Beberapa anak datang mengelilinginya, anak yang terbesar mengatakan bahwa ia sedang mengasuh adik-adiknya karena kedua orang tuanya sedang bekerja di ladang.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan, tokoh aku sampai ke sebuah pancuran dan menemukan seorang gadis yang sedang mandi. Ia mengikuti gadis itu pulang ke rumahnya. Ternyata rumahnya kosong karena kedua orang tua gadis itu masih berada di sawah.
Tokoh aku menginap di rumah orang tua gadis itu. Manakala ia bangun, rumah itu sudah kosong pula karena penghuninya sudah sejak pagi buta pergi untuk meneruskan pekerjaannya menggarap sawah. Demikian piula keadaannya rumah-rumah lain. Hanya anak gadis itu yang masih berada di rumah, karena ditugaskan menyediakan makanan oleh orang tuanya. Tokoh Aku mulai menyadari bahwa rupanya di mana pun semua orang terikat  dengan perjuangan hidupnya. Pada saat berdua, tokoh Aku mencoba mendekati gadis itu, maukah gerangan dibawa ke kota. Gadis itu mula-mula tidak menolak, kemudian bungkam dan akhirnya menggelengkan kepala. Tokoh Aku baru tahu kemudian dari seorang pengantar bahwa anak gadis itu bernama Warsih, dan konon akan diambil menantu oleh lurah di desa itu.
Dalam mencari tokoh Aku, hanya menemukan kenangan, yang tidak luput terkurung waktu antara senang dengan bimbang.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

NENG YAYA

Sebuah novel yang dikarang oleh Yuhana (nama samaran). Diterbitkan di Jakarta (Batavia) oleh penerbit Boekhandel Krakatau, tahun 1923. novel itu terdiri atas dua jilid. Novel ini menceritakan kisah cinta atau pergaulan bebas di kalangan remaja terpelajar. Latar tempat peristiwa ialah di Bandung dan sekitarnya, yaitu Cimindi, Padalarang di sebelah barat kota Bandung dan dayeuhkolot di sebelah selatan kota Bandung.

Ringkasan Ceritera
Neng Yaya adalah seorang gadis yang sedang meningkat dewasa. Ia anak Raden Sumamijaya, seorang bekas mantri gudang kopi di Cikawati yang kemudian tinggal di Cibeureum desa Cimahi dan tergolong orang berada.
Kedatangan Akhmad, pacar neng Yaya pada suatu sore adalah untuk mengajak menonton tonil di Schowburg yang diselenggarakan oleh Jong Java. Dari percakapan mereka jelas bahwa keduanya adalah muda-mudi yang bergaul bebas, senang berpesta dan berdansa. Ibu Neng Yaya amat membanggakan dan melebih-lebihkan kepandaian anak tunggalnya itu. Di depan Akhmad dengan bangga ia menyebut beberapa nama pemuda yang pernah menyatakan niatnya untuk mempersunting anaknya itu. Semuanya ditolak karena konon mereka itu tata hidupnya ke-Belandaan. Anaknya sendiri tidak mau menerima yang berpaham kuno
Sikap yang membebaskan anaknya bergaul dan bebas mengikuti mode-mode kaum muda ke Belandaan itu ternyata agak bertentangan dengan sikap suaminya, Raden Suma tidak menolak pergaulan pwmuda dan pemudi tetapi selama dalam batas-batas kewajaran, tidak pula terlalu kukuh seperti yang diharuskan oleh agama Islam. Pertentangan paham di antara suami istri itu meningkat menjadi percekcokan kecil dan istrinya berkali-kali menyebut suaminya sebagai kaum-kuno.
Di Showburg, Neng yaya diperkenalkan kepada Saleh, sahabat Akhmad. Pemuda ini anak seorang saudagar kaya di Banten, hidupnya dimanja dan tinggal indekos pada keluarga Tuan Biren di Merdeka Park. Pertunjukan amal yang diselenggarakan oleh Jong Java itu menceritakan sepasang muda-mudai yang sedang bercinta, tetapi kemudian keduanya bunuh diri karena hubungan mereka tidak disetujui orang tuanya. Dalam mengomentari lakon itu, Neng Yaya, Akhmad dan Saleh sepakat bahwa orang tua tidak perlu ikut campur.
Setelah perkenalan pertama itu, Saleh sering datang sendirian ke rumah Neng Yaya. Pada suatu tamasya berdua ke Sangkuriang, sebuah tempat pesiar di Dayeuhkolot, pergaulan mereka semakin akrab melebihi batas persahabatan. Keduanya saling menyatakan jatuh cinta, sekalipun Neng Yaya ingat bahwa ia telah berjanji akan menikah dengan Akhmad.
Sementara itu seorang pemuda bernama Raden Sastra Senjaya, klerk stasiun kereta api di Padalarang adalah seorang pemuda yang cakap, berbudi terpuji, masih membujang, dan hidup sendiri menyewa sebuah rumah. Atas petunjuk Kartobi seorang tukang rem kereta api. Raden Sastra berusaha mendekati Neng Yaya melalui Haji Bakri. Aji ini seorang pemilik perusahaan genteng yang sering memesan gerbong barang. Ia sahabat Raden Soma, ayah neng Yaya.
Setelah beberapa kali bertemu dengan Neng Yaya, Raden Sastra bulat hatinya untuk meminang gadis itu dan Haji Bakri di samping memberikan dorongan juga memberikan jaminan akan diterimanya lamaran itu, serta kebaikan sifat gadis itu. Namun, sebenarnya terutama mempermudah usahanya dalam memesan gerbong-gerbong barang.

………………………………………………………………………………………………………………………………………… bersambung ke buku 2, namun buku 2 tidak ditemukan ……………..

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986