Tampilkan postingan dengan label Carpon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Carpon. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juni 2010

BUNGA RAMPAI CARPON

Anting Perak
Sebuah bunga rampai “carita pondok” (cerita pendek) yang diterbitkan di Bandung oleh Sargani tahun 1966, dan terdiri atas 116 halaman. Buku ini merupakan terbitan pertama penerbit itu, mendahului dua bunga rampai lainnya, ayitu “Demi Pasukan” dan “Carecet Sulam”.
Anting Perak disuntuing oleh sebuah dewan redaksi yang terdiri atas Saini Karnamisastra, Enoh Atmadibrata dan Djadja Sargani. Mereka mengemukakan bahwa acuan pemilihan cerita pendek dalam antologi ini ialah keragaman selera. Bunga rampai ini berisi sembilan buah cerita pendek, tiga diantaranya adalah terjemahan karya Leo Tolstoy yang diterjemahkan oleh Rachmat M. Sas; karya Rabindranath Tagore dan karya Ryonosuke Akutagawa diterjemahkan oleh Satibi Karnamisastra.
Keenam cerita pendek asli itu berjudul “Tamu ti Birma” karangan Saini KM, “Kiai Modern” karya SA Hikmat; “Balebat Harepan” karya AHS Armin Asdi; “Anting Perak” karya Naneng Danengsih, “Kumbakarna” karya Saleh Danasasmita, dan “Dehem” karya Wahyu Wibisana.
Cerita pendek yang terkumpul dalam antologi ini pernah dimuat di majalah-majalah. Cerpen Kiai Modern pada majalah Mangle, VIII (90) Maret 1965. Cerpen Anting Perak dimuat dalam Majalah Sunda, I (34) 15 Nopember 1965.


Basisir Langit
Sebuah kumpulan sajak karya Surachman R.M. diterbitkan di Jakarta oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1976 dan tebal 44 halaman. Buku itu berisi 29 buah sajak, sebagian pernah dimuat dalam majalah. Buku ini merupakan antologi kedua penyair Surachman. Kumpulannya berjudul Surat Kayas.


Carecet Sulam
Sebuah kumpulan carita pondok yang diterbitkan di Bandung oleh penerbit Sargani, tahun 1966 dan tebal 54 halaman. Buku ini merupakan bunga rampai ketiga terbitan Sargani, mengikuti dua pendahulunya, yaitu  Anting Perak dan Demi Pasukan. Penyuntingan antologi oni dilakukan oleh dewan Redaksi yang terdiri dari Saini Karnasasmita, Enoh Atmadibrata, dan Djadja Sargani.
Di dalamnya terdapat lima buah ceritera pendek, tiga buah diantaranya merupakan terjemahan, berturut-turut cerita pendek karya Lin Yutang yang diterjemahkan oleh Satibi Karnamisastra dengan judul “Jenderal Daging Anjing”, sebuah karya W.S. Rendra yang berjudul “Herjan” diterjemahkan oleh Satibi Karnamisastra dan karya Milovan Jilas berjudul “Peuntaseun Walungan Gede” yang diterjemahkan oleh P. Afiatin dari judul asli The Execution.


Carita Biasa
Sebuah kumpulan carita pondok karangan R.A.F. (Rahmatullah Ading Affandie) yang diterbitkan di Jakarta oleh Balai Pustaka pada tahun 1959, dan tebal 119 halaman. Buku ini merupakan kumpulan ceritera pendek yang kedua dalam sastra Sunda setelah “Dogdog Pangrewong
Di dalamnya terkumpul tujuh buah ceritera pendek, yang pernah dimuat sebelumnya dalam majalah Ajip Rosidi (1966: 112 – 114); 1970: 10 – 11) membicarakan pemakaian bahasa, tema serta mutu cerpen-cerpen yang dimuat dalam kumpulan ini.
Dua buah cerpen yang berjudul “Bapa Kuring Mata-mata Musuh” (Bapaku mata-mata musuh) dan “Kuring Datang Menta Hukuman’ (Aku datang meminta hukuman), merupakan percikan-percikan peristiwa tragis semasa revolusi kemerdekaan. Kedua ceritera ini pernah dimuat berturut-turut dalam majalah “Sunda” II (13 dan 15), Mei 1953.


Demi Pasukan
Sebuah bunga rampai cerita pendek diterbitkan di Bandung oleh penerbit Sargani, tahun 1966 dan tebal 94 halaman. Penyuntingan antologi ini dikerjakan oleh sebuah dewan redaksi yang terdiri dari Saini Karnamisastra, Enoh Atmadibrata dan Djadja Sargani.
Dalam buku ini dimuat enam ceritera pendek, terdiri dari tiga buah karangan asli dan tiga buah ceritera pendek terjemahan. Ketiga ceritera oendek asli itu belum pernah dimuat sebelumnya, yaitu “Si Kabayan” karangan Min Resmana, “Bangsat” (pencuri) karangan Sanaya, dan “Kasambet” (kemasukan roh halus) karangan Ahmad Bakri. Ketiga cerita pendek terjemahan ialah “Kaasih Indung” (kasih sayang ibu) karangan Premchan (India) diterjemahkan oleh Noh AtmadibrataB, Disaksian Ku Bangawan (disaksikan oleh Begawan) karangan Nugroho Notosusanto, diterjemahkan oleh AHS Asdi dan iPesta Maut” karangan Cevdet Kudret (Turki), tanpa disebutkan siapa penterjemahnya. Ceritera pendek Kudret ini tampaknya sangat disukai karena pernah pula diterjemakan oleh penulis lain, yaitu Duduh Durahman dan Iskandarwassid.
Dalam kata pengantarnya, redaksi mengemukakan bahwa patokan pemilihan cerite pendek dalam bunga rampai ini bukan mutunya, melainkan selera masyarakat yang diduga bermasam-macam. Buku ini merupakan terbitan kedua dari tiga bua bunga rampai cerita pendek yang pernah diterbitkan Sargani. Dua yang lain ialah  “Anting Perak”  dan “Carecet Sulam”.


Dogdog Pangrewong
Sebuah kumpulan ceritera pendek karya GS. Menurut R. Ero Bratakusumah, seorang redaktur Sunda di Balai Pustaka yang paling lama bertugas, GS ialah inisial dari G. Suwandakusuma yang konon pernah jadi wedana. Menurut M.A. Salmun (1958) singkatan itu berasal dari G. Sastradiredja. Sampai sekarang belum dapat dipastikan siapa sesungguhnya pengarang buku ini, sekalipun keterangan pertama lebih cenderung untuk dipercayi karena melihat isi ceritera kumpulan ini diantaranya ada yang berlatar lingkungan kewedanaan.
Buku ini terbit di Jakarta, oleh Balai Pustaka, tahun 1930, dan tebal 115 halaman. Cetakan kedua diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, tahun 1979. cetakan ketiga diterbitkan di Bandung oleh penerbit Rahmat Cijulang, tahun 1984, dan tebal 148 halaman.
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang pertama dalam sastra Suda, juga di Indonesia. Di dalamnya terkumpul 7 buah ceritera, berturut-turut: “Lembu, Dua Paraji, Jin, Salah Pok, Angeun Lekoh, Soang, Guguyon dina Bulan Puasa”
Cerita-ceritanya mengandung lelucon sehingga buku ini dapat dipandang sebagai petunjuk terjadinya peralihan cerita pendek yang kita kenal sekarang. Oleh karena isinya seperti itu. GS menganggap bukunya ini hanya sebagai penghibur. Judul Dogdog Pangrewong telah mencerminkan hal itu karena ungkapan itu berarti penganggu kepada orang yang sedang asyik atau penyela dalam keseriusan.
Kemahiran GS dalam mengarang telah berhasil mengangkat ceritera-ceritera lucu itu ke dalam ceritera pendek yang sesungguhnya. Menurut Ajip Rosidi (1964; 1983) GS telah melanjutkan tradisi lelucon dalam sastra Sunda serta memulai menggunakan bentuk karangan baru, yaitu ceritera pendek dengan menggunakan dasar-dasar modern dalam hal komposisi dan psikologi.
Ceritera “Dua Paraji” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudian diantologikan oleh Ajip Rosidi (1970).


Eulis Acih
Sebuah novel karangan Yuhana, diterbitkan di Bandung oleh penerbit Dakhlan Bekti tahun 1923 dalam 3 jilid.
Novel ini menceritakan seorang janda muda yang kaya, tetapi angkuh bernama Eulis Acih. Seorang lelaki, bernama Arsad, yang mengaku saudagar mas dan berlian menikahinya, tetapi kemudian menipunya. Semua uang hasil penjualan harta benda perempuan itu dilarikannya. Dalam keadaan miskin dan hamil, Eulis Acih dipelihara oleh paman dan bibinya yang sebenarnya pernah disakiti hatinya oleh Eulis Acih. Dalam pelarian Arsad pun ditipu orang sehingga jatuh miskin, tetapi berangsur-angsur kembali hidup senang sebagai mandor di Tanjungpriok. Anak Eulis Acih, yang kelak sesat ke Jakarta, menjadi jalan pertemuan kembali kedua suami istri itu.
Ajip Rosidi (1966;1983) dan Tini Kartini serta kawan-kawan (1979) membicarakan karangan-karangan Yuhana secara keseluruhan.


Genjlong Garut
Buku ini karangan Muhamad Sanusi yang terbit pada tahun 1920. ceritera ditulis berupa Wawacan. Isinya menceritakan pemberontakan Haji Hasan di Cimareme Garut, terhadap pemerintah jajahan. Oleh karena isinya dianggap membahayakan, pemerintah Belanda lalu memenjarakan pengarangnya. Muhamad Sanusi adalah salah seorang pejuang kemerdekaan yang pernah dibuang ke Digul.


Graaf de Monte Cristo
Sebuah novel saduran dari sastra Perancis karya Alexander Dumas yang berjudul Graaf de Monte Cristo. Saduran dikerjakan oleh R. Satjadibrata; diterbitkan di Jakarta oleh Balai Pustaka tahun 1928. buku ini terdiri atas 6 jilid; jilid pertama tebalnaya 88 halaman, jilid kedua tebalnya 102 halaman, jilid ketiga tebalnya 106 halaman, jilid keempat tebalnya 130 halaman, jilid kelima tebalnya 116 halaman, dan jilid keenam tebalnya 107 halaman.


Hujan Munggaran
Sebuah kumpulan ceritera pendek karangan Ayatrohaedi. Diterbitkan di Jakarta oleh penerbit balai Pustaka tahun 1960, dan tebal 76 halaman. Dalam buku ini terkumpul enam buah ceritera pendek yang ditulis pengarangnya pada tahun 1957. Keenam cerpen ini ditulis di Jakarta. Namun, Latar peristiwa (ceritera) hampir dapat dipastikan adalah kota kelahiran pengarang sendiri (Jatiwangi). Hal ini lebih jelas apabila dihubungkan dengan catatan pengarang di halaman muka yang berbunyi, Minangka pamulang tarima ka Jatiwangi”. (Sebagai balas budi kepada Jatiwangi).
Keenam cerita pendek itu berturut-turut ialah: “Gorombolan, Bulan Ngempur, Hujan Munggaran, Nu Lleuwih Penting, Cengcelengan, dan Wartawan”.
Cerita pendek Hujan Munggaran menceritakan pertemuan aku dengan Sri yang pernah bersama-sama sekolah di Jakarta. Gadis sri memanggilnya untuk singgah ketika aku basah kuyup diguyur hujan pertama di musim kemarau itu. Harapan yang sudah lama terpendam pun muncul kembali karena semasa sekolah di Jakarta aku secara diam-diam sudah mulai menaruh hati kepada gadis itu. Namun, waktu itu Sri terlanjur cepat pindah ke Bandung karena rupanya tidak senang akan gangguan teman sekelasnya yang bernama Sidik. Pertemuan sekarang telah membuka harapan baru sekalipun aku belum juga kuasa menyampaikan bisikan hatinya. Pada waktu aku pamitan pulang, Sri menyerahkan sebuah amplop yang makin menghangatkan gejolak hatinya. Akan tetapi bukan main kecewanya setelah aku mengetahui bahwa amplop itu sebenarnya berisi surat undangan pernikahan Sri dengan Sidik, pemuda yang dulu sering mengganggunya itu.
Cerpen Gorombolan adalah lukisan demam kekhawatiran masyarakat akan gangguan gerombolan, sampai-sampai terjadi salah tangkap. Cerpen Nu Leuwih Penting, tentang ayahku yang tidak kuasa menolak setiap permintaan istrinya yang kedua, dan cerpen Wartawan yang menceritakan seorang wartawan yang selalu bertingkah dengan pekerjaannya itu.


Jagar Alit
Sebuah kumpulan sajak karya Godi Suwarna, diterbitkan di Bandung oleh penerbit Rahmat Cijulang, tahun 1979, dan tebal 58 halaman. Dalam buku ini terkumpul 58 buah sajak.
Judul buku diambil dari sajak pertama Jagat Alit. Sajak ini berisi tentang lakon kehidupan manusia di dunia, yang demikian singkat penuh ketidakberdayaan, dan hanya menunggu sang waktu. Lakon apa pun yang akan terjadi semata-mata karena kehendak Yang Maha Kuasa jua; perilaku wayang yang diibaratkannya sehingga akan mengingatkan kita akan babasan (peribahasa) orang Sunda yang mengatakan bahwa hidup ini hanya darma wawayangan (sekedar berperan sebagai wayang). Hidup dan kumelendang (berkeliaran) di dunia hanya sebelum ajal datang menjemput.
Penempatan sajak ini di urutan pertama merupakan kakawen (prolog) dalam seluruh isi kumpulan karena hampir seluruhnya amat jelas menyenandungkan makna hidup. Apalagi kalau dihubungkan sajak terakhir berjudul “Asmarandana” yang menyatakan bahwa telah tamatlah kumelendang selama “semalam”, dan kita akan kembali ketempat kita berasal.


Jante Arkidam
Sebuah kumpulan sajak karya Ajip Rosidi, diterbitkan di Jatiwangi Cirebon oleh penerbit Cupumanik tahun 1967, dan tebal 44 halaman. Di dalamnya terkumpul 22 buah sajak yang ditulis oleh pengarangnya antara tahun 1957 – 1967, dimuat secara kronologis, serta sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah-majalah.sajak-sajak itu ditulis di Jatiwangi, Jakarta, Sumedang dan Bandung.
Judul buku diambil dari judul sajak pertama, yaitu “Jante Arkidan” sebuah sajak epik (balada) tentang seorang jagoan, buronan polisi, yang bernama Jante Arkidam, yang rupanya diangkat dari khasanah critera rakyat. Sajak ini pernah ditulis pula oleh pengarangnya dalam bahasa Indonesia, dimuat dalam kumpulan Cari Muatan (1959), serta telah dibicarakan secara panjang lebar oleh A. Teeuw (1980: 41 – 59).
Dua buah sajak lain menunjukan gaya penulisan yang hampir sama dengan “jante Arkidam” yaitu “Bendara Ikin” dan “Bagus Rangin”. Sajak Bendara Ikin berisi tentang orang yangmelecehkan bangsa sendiri, merasa berkuasa karena hidupnya bersandar kepada pihak yang sedang berkuasa. Sajak Bagus Rangin , menceritakan kepahlawanan Bagus Rangin, tokoh pahlawan rakyat yang legendaris-historis yang memberontak pada pemerintahan Belanda dan kesewenang-wenangan orang-orang Cina di Jatitujuh. Oleh karena peristiwa itu belum terungkap dalam sejarah, pengarang merasa perlu mengawali sajak itu dengan sebuah pengantar. Kedua sajak ini merupakan karya yang ditulis leih kemudian, yaitu tahun 1965, dan pernah dimuat di Mingguan Sunda 1 (5 dan 2) Maret dan Juli 1965.
Tema keagamaan terkandung dalam dua buah prosa lirik yang berjudul “Anasir Jati’ dan Pareng Dina Hiji Poe. Dalam sajak yang disebut terakhir dilukiskan renungan-renungan menyelusuri teka-teki kekuasaan Yang Maha Kuasa, yang berakhir dengan timbulnya perasaan tenteram dalam diri.


Jurig
Kumpulan cerita pendek karangan Tini Kartini, diterbitkan di Bandung oleh penerbit Kiwari, tahun 1963, dan tebal 88 halaman. Cetakan kedua diterbitkan oleh penerbit Rahmat Cijulang di Bandung tahun 1983. dalam buku ini terkumpul sepuluh buah ceritera pendek yang ditulis antara tahun 1959 – 1961, sebagian ditulis di Tasikmalaya dan sebagian lagi di Bandung. Sebelum dibukukan, cerpen-cerpen itu sudah dimuat dalam majalah atau surat kabar. Ajip Rosidi (1966: 157 – 158; 1983: 193 -197) membicarakan dan menilai mutu cerpen-cerpen yang dimuat dalam kumpulan ini.
Sepuluh ceritera pendek itu berturut-turut ialah “Jurig” (1959), “Surat” (1959), “Ondangan” (1961), “Ngiuhan” (1961), “Emang jeung Embi” (1961), “Leungit” (1959), “Sial” (1959), “Study Club” (1960) dan “Di Lembur” (1961)
Cerita pendek pertama Jurig (Setan) menceritakan seorang permpuan bernama Nyi Iyot yang terpaksa menyingkir karena menurut pengakuannya, suaminya direbut perempuan lain. Ia dikisahkan baru menempati sebuah rumah sewa yang sudah lama dikosongkan karena konon ada hantunya.
Kehidupan janda itu makin lama makin jadi perhatian tetangga-tetangganya karena bicara dan kelakuannya yang aneh-aneh. akhirnya diketahui bahwa sesungguhnya ia berubah ingatan. Tidak dapat dipastikan apakah penyakit yang dideritanya itu karena gangguan setan atau karena kepedihan hatinya sendiri akibat suaminya direbut orang.



Katineung Kuring
Sebuah bunga rampai yang ditulis oleh Rusman Sutiasumarga. Buku ini diterbitkan di Jakarta oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1966, dan tebal 96 halaman.
Dalam bunga rampai ini terkumpul 11 buah sajak, 14 buah guguritan pendek, dan 7 buah artikel kesastraan dalam bentuk surat kepada teman-teman pengarang yang sastrawan atau seniman. Karangan-karangan itu bertitimangsa tahun 1955 – 1960. hampir seluruhnya pernah dimuat dalam harian Sipatahunan, Pangegar dan Candra.
Pengarang yang mengaku dirinya sentimentil dan romantis tercermin dalam sajak-sajak dan guguritan-nya,  terasa akrab dengan alam dan kehidupan di pesisian. Dalam surat-suratnya yang bersifat pribadi terdapat catatan tentang peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan kegiatan sastra Sunda.
Berdasarkan titimangsanya, naskah bunga rampai ini rupanya sudah siap sejak Mei 1961.


Mikung
Novel karangan Abdullah Mustappa, diterbitkan oleh Pustaka Dasentra di Bandung tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, tebal 92 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan pendidikan. Mikung itu serba tanggung; ke manapun tiada yang tuntas, baik jadi mahasiswa, jadi wartawan, maupun mencintai Lia, tidak ada yang lanjut. Novel ini menggambarkan kehidupan pers yang dipadukan dengan kehidupan jamannya.
Kusndai tidak mempunyai motivasi dalam mendirikan surat kabar Mingguan Publik. Semula Kusnadi hanya ikut-ikutan Pepen pada surat kabar Mingguan Indonesia, tetapi lama-kelamaan Kusnadi menyenangi dan akhirnya menjadi wartawan Mingguan Publik sampai meninggalkan kuliah.
Wijaya yang mempunyai Mingguan Publik menceritakan pada Zulkarnaen bahwa Mingguan Publik akan ditutup karena rugi. Mira, Pepen, serta karyawan lainnya mempertahankan berdirinya Mingguan Publik melalui Zulkarnaen yang diberi kuasa Wijaya. Juga Kusnadi yang semula tidak mempunyai motivasi itu mempertahankannya.
Setelah Mingguan Publik ditutup, teman-teman Kusnadi mencari pekerjaan lain. Kusnadi sendiri belum dapat menentukan pendiriannya walaupun ada Lia yang mengharapkan cintanya, Kusnadi dingin-dingin saja. Kusnadi dengan Mira sebenarnya sudah saling mencintai, hanya Kusnadi tidak terus terang dan akhirnya Mira memilih Pepen.
Kusnadi akan ditolong Pepen dan Mira berhubungan dengan Lia. Kusnadi masih belum dapat menentukan pendiriannya, pekerjaan apa yang akan dilaksanakan setelah Mingguan Publik ditutup. Kusnadi serba tanggung, menjadi mahasiswa tidak selesai, menjadi wartawan juga tidak menentu, demikian juga cinta pada Lia tidak berani terus terang dan hanya tersimpan dalam hati.


Napsu nu Anom
Sebuah novel terjemahan dari sastra Indonesia karangan Adinegoro, Darah Muda (1972). Terjemahan dikerjakan oleh Moh. Ambri, diterbitkan di jakarta oleh Balai Pustaka tahun 1932, dan tebal 103 halaman.


Ngabuang Maneh
Sebuah novel pendek karangan Ki Umbara, diterbitkan di bandung oleh penerbit Mitra Kancana, tahun 1979 dan tebal 58 halaman. Sebelumnya novel ini pernah dimuat dalam majalah sebagai cerita bersambung.
Novel ini menceritakan dua orang gadis perawat yang masing-masing telah yatim piatu. Keduanya tinggal bersama di sebuah rumah sewa dan hidup sebagai sahabat yang sangat akrab sekalipun sikap hidup mereka agak berbeda. Mutiah (asal Banten) yang saleh dan taat pada agama akhirnya memperoleh kebahagiaan, sedangkan Gilang (asal Kuningan) membuang diri ke tanah seberang karena merasa malu akibat tingkah laku abngnya yang telah berbuat tidak senonoh terhadap seorang gadis, sementara ia sendiri mulai menyadari kebenaran agama.
Cerita ini mengambil latar kota Betawi (Jakarta pada masa dulu) sekalipun tempat itu terasa kurang melatarbelakangi ceritera ini.


Nu Mahal ti Batan Inten
Sebuah kumpulan sajak karya Yus Rusyana, diterbitkan di Bandung oleh penerbit Rahmat Cijulang tahun 1980, dan tebal 72 halaman.
Sjak yang terkumpul dalam buku ini sebanyak 70 buah, yang ditulis antara tahun 1959 – 1965. sebelum dibukukan, hampir seluruhnya pernah dimuat dalam majalah-majalah. Berdasarkan titimangsanya dapat diketahui bahwa sajak-sajak itu sebagian ditulis di Pameungpeuk, garut dan Bandung, sebagai tempat kelahiran dan tempat tinggal penyairnya. Sajak-sajak keagamaan dan kesejarahan cukup banyak dalam kumpulan ini.


Ombak Laut Kidul
Sebuah buku kumpulan sajak karya Rachmat M. Sas Karana, diterbitkan di Jatiwangi (Cirebon) oleh penerbit Cupumanik tahun 1966, dan tebal 30 halaman.
Isi buku ini terdiri atas 2 kumpulan, yaitu “Kacapi ‘na Peuting Sepi” dan “Ombak Laut Kidul”. Sajak-sajak yang terkumpul dalam buku ini ditulis antara tahun 1963 – 1966, sebelumnya telah dibuat dalam majalah.
Popo S. Iskandar (1966) membicarakan kumpulan sajak ini dan menilai penyairnya memiliki sifat inventif, kreatif, dan suka bereksprimen. Buku Ombak Laut Kidul mendapat hadiah sastra Piagem Ambri untuk sajak dari Paguyuban Pangarang Sastra Sunda.


Papacangan
Sebuah kumpulan cerpen karya Rusman Sutiasumarga, diterbitkan di Jakarta oleh Balai Pustaka tahun 1960 dan tebal 64 halaman.
Dalam kumpulan ini dimuat 5 buah cerita pendek, ditulis antara tahun 1956-1958, yang sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah. Kelima cerita pendek itu ialah: “Papacangan, Nu garering Pikir, Ati, Bapa Kuring Pangsiunan, dan Kongkorong”.
Cerpen “Papacangan” menceritakan seorang guru pendiam, teman “aku” bekerja, yang tanpa disangka melakukan pertunangan dengan seorang muridnya. Cerpen ini pernah dimuat dalam majalah “Kiwari”, I (2), Juli 1957. Cerpen “Nu Garering Pikir” menceritakan pertemuan “aku” dengan dua orang perempuan di tempat pertunjukan wayang golek. Wanita pertama sakit ingatan, wanita kedua seorang pelacur, kedua-duanya disebabkan oleh sakit hati. Cerpen ini pernah dimuat dalam majalah “Panghegar” (1956) dan majalah “Candra”. Cerpen “Ati” adalah kisah cinta yang lembut, pernah dimuat dalam majalah Kiwari 1 (7/8), Desember 1957 dan Januari 1958. Cerpen “Bapa Kuring Pangsiunan” menceritakan ayah “aku”  yang merasa lebih tenteram untuk segera mengambil pensiun, sedangkan cerpen “Kongkorong” menceritakan seorang pegawai negeri yang berupaya menentramkan istrinya yang selalu memimpikan berkalung emas di hari lebaran.
Peristiwa-peristiwa ringan dalam cerpen-cerpen ini mendapat pengolahan yang lunak sehingga memancarkan kesegaran, tetapi kadang-kadang terbersit sindiran-sindiran halus. Oleh karena cerpen-cerpennya ini, pada tahun 1957, Rusman Sutiasumarga mendapat Hadiah Sastra Sunda dari Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS, yang berkedudukan di Bandung).


Pelet
Kumpulan cerita pendek yang terbit secara seri sehingga tampaknya seperti majalah; apalagi diantara cerpen-cerpen itu dimuat pula lelucon-lelucon pendek, cerita bersambung, dan esai sastra. Meskipun demikian, reaksinya menyatakan bahwa Pelet bukan majalah karena tidak akan memenuhi syarat-syarat permajalahan. Redaktur seri kumpulan ceritera pendek ini ialah Ki Umbara dan Ermas (kedua-duanya nama samaran)
Setiap nomor kumpulan rata-rata terdiri atas 36 halaman, memuat empat sampai enam judul ceritera. Diterbitkan di Bandung oleh penerbit Pusaka Sunda, selama lebih kurang dua tahun, sejak tahun 1966.
Para penulis yang pernah dimuat karangannya dalam seri kumpulan ini antara lain: Adang S, Aam Amilia, Achmad Bakri, Abdullah Yusuf, Abdullah D, Achmad Rustandi, Budhi Darma, Dudu Prawiraatmadja, Ermas, Duduh Durahman, M.A. Salmun, Ki Umbara, Saini KM, Kurdi Natamihardja, Suhana Darmatin, Us Tiarsa R, Wahyu Wibisana, Yus Rusamsi, Rukmana Hs, Naneng Danengsih, S.A. Hikmat, Ningrum Djulaeha, Hayati, Muh. Hidayat, Jus kelana Djaja, dan Odji Setiadji A.R..


Petingan
Sebuah kumpulan cerita pendek yang dipilih oleh Duduh Durahman. Buku ini diterbitkan di Bandung oleh penerbit Pustaka Dasentra tahu 1983 dan tebal 139 halaman.
Di dalamnya terkumpul sepuluh buah cerita pendek dari sepuluh orang pengarang, yaitu: Tibelat karya Moh. Ambri, Hampura karya I. Asikin, Piring Dinasti Ming karya Kis. Ws, Buleudan Setan  karya May. Aki Warung karya Wahyu Wibisana, Rojali bin Haji Sanip karya Eson Sumardi, Itu Gunung ieu Gunung karya Min Resmana,  Sedepmalem ti Parongpong karya Ami Raksanagara, Kedok karya Anna Mustikaati dan Rama jeung Sinta karya Sukaesih Sastrini. Ketiga pengarang yang disebut terakhir adalah pengarang wanita.
Hampir seluruh cerita pendek yang dikumpulkan ini sebelumnya pernah dimuat dalam majalah Mangle antara 1979 – 1983. cerpen yang sengaja untuk kumpulan ini ialah Rojali bin Haji Sanip karangan Eson Sumardi. Pada bagian akhir buku terdapat biodata pengarang.
Setiap ceritera pendek mendapat pembicaraan kritik dari penyuntingnya. Dalam pengantarnya, penyunting mengemukakan pertanggungjawaban mengapa pemilihan cerpen untuk kumpulan ini akhirnya hanya dari pengarang senior, yang sudah amat dikenal. Pemilihan cerpen-cerpen yang memiliki struktur konvensional ini diharapkan dapat membantu orang-orang yang baru siap hendak memasuki dunia sastra Sunda. Teknik bercerita dan isi karangan merupakan segi-segi yang sangat diperhatikan dalam memilih cerpen untuk kumpulan ini.


Puputon
Sebuah novel yang judulnya berarti “buah hati” karangan Aam Amalia (wanita). Buku ini diterbitkan di Bandung oleh penerbit Mitra Kancana, (tanpa rahun), dan tebal 123 halaman.
Novel ini menceritakan seorang suami, bernama Ismet, yang menikah lagi dengan seorang gadis, bernama Mamay, tnpa setahu istrinya yang pertama. Ia berbuat demikian karena dari istrinya yang pertama, bernama Astri, tidak memperoleh anak. Setelah melahirkan, Mamay mendadak minta diceraikan, karena perasaan berdosa kepada sesama wanita, makin dalam menuduh dirinya. Ketika Ismet kembali kepada istrinya yang pertama, wanita ini pun menolaknya karena ia tidak mau memperoleh kembali kebahagiaan di atas kehancuran hati wanita lain, yang pernah berbahagia dengan suaminya itu, serta telah mempunyai anak pula.


Salah Atikan
Sebuah novel terjemahan dari sastra Indonesia karya Abdul Muis “Salah Asuhan” (1928). Terjemahan dikerjakan oleh R. Satjadibrata, diterbitkan di Jakarta oleh Balai Pustaka tahun 1940.


Sawidak Carita Pondok
Sebuah bunga rampai ceritera pendek yang disunting oleh Abdullah Mustappa, Karno Kartadibrata dan Duduh Durahman. Buku ini diterbitkan di Bandung oleh Mangle Panglipur tahun 1983, dan tebal 409 halaman. Penerbitan buku ini dalam rangka ulang tahun ke-25 majalah Mangle.
Dalam bunga rampai ini terkumpul enam puluh (sawidak) buah ceritera pendek yang dipilih dari sekian banyak ceritera pendek yang pernah dimuat dalam majalah Mangle. Urutan penyusunannya berdasarkan kronologi sehingga dapat dicatat bahwa karya yang terkumpul dalam antologi ini ditulis antara tahun 1963 – 1982. Di tengah para pengarang yang kebanyakan masih berusia muda terdapat pula beberapa mengarang yang telah agak lanjut usianya (pada bagian akhir dimuat biografi pengarang) serta yang telah aktif menulis sejak masa sebelum Perang Dunia II.
Dari tangan seorang pengarang kadang-kadang dimuat lebih dari sebuah ceritera pendek sehingga banyaknya pengarang yang karyanya termuat dalam bunga rampai ini berjumlah 56 pengarang, 5 orang di antaranya pengarang wanita.
Dari keenam puluh ceritera pendek itu, 10 di antaranya pernah memperoleh hadiah sastra, baik hadiah sastra Mangle, Sayembara Ngarang Carita Pondok Mangle (tahun 1979), maupun hadiah sastra dari Paguyuban Pangarang Sastra Sunda (PP-SS) yaitu “Kasilib” karya Ki Umbara, Gotong Royong karya Caraka, Handapeun Dapuran Awi karya Syarif Amin, Di Cindulang Aya Kembang karya Aam Amilia, Saliara Sisi Jami karya Saleh Danasasmita, Nu Butuh ku Pamuntangan karya I. Asikin, Hariring ti Lamping Pasir karya Sum Darsono, Nu Ngalantung di Buruan karya A. Kohar, Panto karya Trisna Mansur, dan Loceng Gareja Bercolli karya Adang S.
Sebuah ceritera pendek dalam kumpulan ini pernah diterjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Ayip Rosidi (1970) dimuat dalam majalah Horison dan kemudian diantologikan. Cerita pendek itu berjudul Sripanggung Doger Karawang karya Iskandarwassid.
Keanekaragaman tema dan kualitas dalam bunga rampai ini amat berharga untuk meneropong perkembangan cerpen Sunda pada periode itu.


Surat Kayas
Sebuah kumpulan sejak karya Surachman R.M., diterbitkan di Jakarta oleh penerbit Balai Pustaka, tahun 1967, dan tebal 51 halaman. Di dalamnya terkumpul 34 buah sajak, sebuah di antaranya berjudul “Surat Kayas” yang kemudian dijadikan judul kumpulan ini. sajak-sajak dalam kumpulan ini ditulis oleh pengarang ntara tahun 1953 – 1962, yang sebelumnya pernah dimuat dalam majalah.
Sebagian besar sajak memperlihatkan kekayaan penyairnya akan latar belakang alam, seperti laut, gunung, bulan, angin dan dedaunan, sejarah serta ceritera sasakala.


Tepung di Bandung
Sebuah kumpulan sajak-sajak karya Rachmat M. Sas Karana, diterbitkan di Bandung oleh penerbit Mitra tahun 1972, dan tebal 46 halaman.
Dalam buku ini terkumpul 30 buah sajak yang dibagi atas 2 bagian, yaitu Katineung keur Nandang dan Tepung di Bandung, tentang sepasang remaja yang telah bertemu hati, hanya tinggal menunggu perkenan Tuhan.
Dari titimangsa diketahui bahwa sajak-sajak yang terkumpul dalam buku ini ditulis antara tahun 1963 – 1965. Sebagian ditulis di Bandung, sebagian lagi ditulis di Pangandaran serta sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah.


Teu Pegat Asih
Sebuah novel terjemahan dari sastra Indonesia karya Suman Hs. Kasih tak terlarai (1929). Terjemahan dikerjakan oleh Moh. Ambri, diterbitkan di Jakarta oleh Balai Pustaka tahun 1923, dan tebal 66 halaman.


Waruga Guru
Sebuah naskah yang berasal dari kabuyutan Kawali, Ciamis, dan pernah disalin dan dimuat pada penerbitan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang kemudian dimuat lagi dalam majalah Poesaka Soenda nomer 9, tahun 1923. naskah asli ditulis dengan mempergunakan huruf Sunda kuno, berjumlah 24 halaman.
Apabila dibandingkan dengan Bahasa Sunda yang ada pada naskah Carita Parahiyangan (1579) atau Siksa kandang Karesian (1518), baik struktur kalimatnya maupun kosa katanya, bahasa Sunda yang ada pada Carita Waruga Guru banyak persamaannya dengan kedua naskah itu. Namun, apabila diperhatikan istrinya, dapatlah dipastikan bahwa pembuatan naskah itu lebih kemudian karena kadar pengaruh Islam di dalamnya sudah lebih besar daripada yang ada dalam Carita Parahiyangan.
Isi naskah itu pada pokoknya, ialah (1) silsilah Ratu Galuh sejak Nabi Adam; (2) peristiwa banjir, Nabi Enoh membuat perahu dan ratu Prewata sari membuat gunung di Nusa Jawa; (3) orang Nusa jawa menyembah baitullah setelah malaikat meruntuhkan gunung yang semula disembah oleh orang Jawa; (4) Ajar Suka Resi di Gunung Padang yang meramal kelahiran putra prameswari (yang pura-pura mengandung) dimarahi oleh raja; (5) kelahiran hariang banga; (6) malapetaka di Galuh dapat diatasi berkat daun reundeui yang dimakan oleh raja pemberian Ajar Suka Resi, tetapi raja menghukum Ajar itu karena memberi reundeu sisa orang lain; (7) prameswari kedua mengandung, kemudian melahirkan seorang putra yang dibuang ke Sungai Citanduy dalam kandaga (semacam peti tempat menyimpan perhiasan); (8) bayi dalam kandaga dipungut Aki dan Nini Balangantrang, kemudian diberi nama Ciung Manarah; (9) Ciung Manarah mempunyai ayam jantan yang bernama Singarat Tarajang; (10) Ciung Manarah pergi ke ibu kota kerajaan untuk bersabung ayam dengan raja; Ciung Manarah menerangkan bahwa ia adalah anak raja, kemudian ia minta diwariskan negara; permintaannya itu dikabulkan dan kemudian ia menjadi raja membawahi nusa yang banyaknya tigapuluh tiga; (11) Ciung manarah membuat konjara wesi (penjara besi), raja dipenjara oleh Ciung Manarah, sehingga Hariang banga marah; (12) Ciung Manarah perang dengan hariang Banga; (13) terjadinya Majapahit dan Pakwan Pajajaran; (14) silsilah keturunan Ciung Manarah dan Hariang Banga, masing-masing sampai dengan Siliwangi dan Susunan Mangkurat yang berlanjut sampai pangeran Dipati.


PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

DIWADALKEUN KA SILUMAN

Sebuah kumpulan carita pondok (carpon)atau cerita pendek karya Ki Umbara. Diterbitkan di Bandung tahun 1965 dan tebalnya 80 halaman. Di dalamnya terkumpul empat buah cerita pendek yang sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah Mangle. Keempat ceritera pendek itu ialah: Kasilib, Diwadalkeun ka Siluman, Mindahkeun Jurig dan Kiai Bantalwulung. Keempat cerita pendek itu mengisahkan peristiwa yang menyertakan mahluk halus (siluman). Cerita pendek Kasilib pernah mendapat hadiah II hadiah Sastra Mangle pada tahun 1968. di samping dalam kumpulan ini, cerita itu diantologikan pula dalam “sawelas Carita Pondok”
Cerita pendek Diwadalkeun ka Siluman (Dikorbankan kepada setan) direkam oleh ‘aku’ berdasarkan penuturan Imong dan istrinya, yang dalam usia lanjut dikenal dengan nama julukan Mang Merebot dan Bi Merebot, tentang peristiwa aneh yang dialami mereka.
Konon tersebut Babah Lintuh (gemuk) yang sangat kaya dari bertani ubi kayu dan sabrang. Ratusan hetar tanah disewa dari penduduk dengan cara bayar di muka sehingga mereka terbelenggu oleh utang kepada lintah darat itu. Tersebar secara bidik-bisik bahwa orang cina itu nyupang memuja mahluk halus ke Warudoyong. Tiap enam bulan ia harus mengorbankan jiwa. Yang dikorbankannya ialah paburunya (penjaga kebun), mati setelah tiba-tiba sakit.
Imong yang miskin melamar pekerjaan kepada Babah Lintuh itu. Ia segera diterima sebagai paburu karena Imong diketahui sebagai cucu Aki Malendra yang terkenal amat pekerjaan. Imong ditempatkan di hutan Bulak Panjang, perkebunan sabrang. Setelah bekerja beberapa lama, ia tiba-tiba sakit dan berusaha pulang. Penyakitnya makin lama makin berat, badannya panas dan ia mengigau, serta memperlihatkan gerakan-gerakan aneh.
Dalam keadaan gawat seperti itu, Waria datang tergopoh-gopoh memberitahukan bahwa ia baru saja melihat Imong diseret oleh tiga orang gulang-gulang (ponggawa) siluman, dinaikkan ke atas kuda belang (sebutan untuk kuda yang biasa menjadi tunggangan korban). Mendengar berita itu, istri Imong segera berlari hendak mencari gulang-gulang yang melarikan suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.
Imong ternyata dibawa ke tempat pemujaan Warudoyong. Ia dituduh telah menerima rezeki lebih dan berutang kepada Babah Lintuh. Di sana ia dihadapkan kepada Demang Bincurangherang, raja siluman Warudoyong, dan kemudian dipenjarakan. Penjara itu sangat aneh, segalanya terbuat dari tubuh manusia dalam keadaan dipaku dan tersiksa secara mengerikan. Mereka itu semuanya adalah orang-orang yang dikenali oleh Imong. Selama berada dalam penjara itu, Imong melakukan salat dan menyebut Allah.
Demang Bincurangherang, yang membuka tempat pemujaan itu untuk membalas dendam kepda manusia, tidak lama kemudian mati. Ia diganti oleh putrinya yang bernama Nyimas Damarcaang. Putri ini adalah jin Islam karena sejak kecil ia dipelihara oleh kakeknya yang bernama Kaliwon Tamiang ropoh. Dalam pemeriksaan, Imong menerangkan makna nama putri jin itu serta menyatakan keteguhan kepada Allah. Akhirnya, Nyimas Damarcaang menyuruh semua rakyatnya beralih memeluk Islam, dan kemudian membubarkan tempat pemujaan Warudoyong. Setelah itu, Imong kembali ke jasadnya yang telah kurus kering karena menderita sakit yang demikian lama.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

MUGIRI

Sebuah novel karangan Yuhana (nama samaran), diterbitkan di Bandung oleh penerbit (toko buku) Kusradie tahun 1928. novel ini terdiri dari 2 jilid, yang masing-masing berisi 39 dan 35 halaman. Novel ini pernah dimuat kembali sebagai ceritera bersambung dalam Majalah Sunda mulai tahun I (32), Oktober 1965. di samping itu, pada tahun 1966 pernah diiklankan oleh penerbit Duta Rakyat, Bandung bahwa akan diterbitkan kembali dalam bentuk buku. Ajip Rosidi (1929; 1983; 119 – 138) membicarakan novel ini dalam tinjauan kritiknya mengenai karya-karya Yuhana yang bertema protes, Tini Kartini dan kawan-kawan (1979), M.A. Salmun (1963:142) secara sepintas membicarakan novel-novel Yuhana yang bertemakan menolak pergaulan bebas tanpa batas, dan Iskandar Wassid (1979 ) mempelajari novel ini dalam usaha menemukan struktur novel-novel Yuhana. Pemakaian judul Mugiri diambil dari nama salah seorang tokoh dalam ceritera ini.

Ringkasan Ceritera
Siti Rakhmah anak tunggal Raden Surya, seorang jurnalis. Selain telah menamatkan sekolah, anak gadis ini telah selesai pula mengikuti kursus mengetik. Keluarga Raden Surya menempati sebuah rumah mungil yang berhalaman luas di desa Cipaganti, bandung Utara.
Rumah itu terletak berseberangan dengan Situ Bunjali, tempat anak-anak muda bersantai menghabiskan malam minggunya.
Siti Rakhmah sangat ingin berada di tengah kesenangan seperti itu, tetapi takut akan larangan orang tuanya. Dalam keadaan seperti itulah kemudian ia secara sembunyi-sembunyi berhubungan dengan Gan Adung. Seorang pemuda bekas temannya kursus mengetik. Keduanya saling berjanji untuk hidup berdampingan dan Gan Adung telah menyatakan niatnya untuk segera meminang Rakhimah. Apabila lamaran itu ditolak, Siti Rakhmah bersedia dilarikan.
Lamaran Gan Adung ternyata ditolak setelah Raden Surya menelitinya selama hampir sebulan dan terbukti bahwa calon menantunya itu telah memberikan pengakuan-pengakuan bohong, di samping sikapnya yang sombong. Istri Raden Surya menyangsikan kebenaran keterangan-keterangan yang diperoleh suaminya itu.
Pada suatu malam Siti Rakhmah dilarikan oleh Gan Adung dengan kawalan Karta, orang kepercayaannya dalam memelihara ayam sabung. Beberapa saat sebelumnya, Siti Rakhmah sempat dahulu menyampaikan keterangan-keterangan ayahnya, tetapi Gan Adung memungkirinya diertai janji-janji penuh rayuan. Siti Rakhmah dititipkan pada seorang perempuan tua di Babakan Ciparay yang rumahnya terpencil dari tetangga. Bi Sarni, nama perempuan itu, dan Karta menyatakan janjinya akan menjaga Siti Rakhmah dengan baik.
Minggatnya Siti Rakhmah diketahui keesokan harinya. Ibunya sangat sedih dan bingung, sedangkan Raden Surya bersikap tenang dan memutuskan untuk tidak mencarinya karena pelarian itu ternyata atas keinginan anaknya pula. Ia berpendapat lebih baik tidak mempunyai anak daripada mempunyai anak bertingkah buruk dan memalukan, padahal seorang anak yang ilmunya cukup dan berpendidikan.
Kebahagiaan Rakhmah hidup bersma dengan Gan Adung di persembunyiannya itu hanya berlangsung satu sampai dua bulan. Mereka kemudian menikah setelah Gan Adung beberapa kali mengundurkannya dengan berbagai alasan. Selanjutnya, gan Adung sering bepergian dan jarang pulang. Akhirnya ia tidak pernah lagi membawa uang gaji. Perhiasan dan barang-barang Siti Rakhmah berangsur-angsur masuk rumah gadai, sampai akhirnya pakaian yang tersisa pun hanyalah yang melekat pada tubuhnya. Setelah satu setengah tahun berumah tangga, hamilnya pun genaplah sembilan bulan. Bi Sarni, orang yang ditumpanginya, sudah sejak lama mulai berbudi kecut dan berkata kasar kepadanya. Pada suatu hari malah secara langsung ia mengusir Siti Rakhmah dengan kata-kata yang menyakitkan. Kedatangan Karta pada waktu itu malah menambah kepedihan hatinya. Karta berbisik pada Bi Sarni bahwa Gan Adung telah mempunyai wanita lain, seorang janda kaya yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya.
Pada saat-saat yang menegangkan seperti itu, datang ke sana Tuan Gulam Kodir, seorang rentenir dan tukang kredit bahan pakaian. Rasa jengkelnya kepada Bi Sarni yang selalu menghindar dari tagihan mendadak hilang setelah diperkenalkan kepada Siti Rakhmah. Atas janji Bi Sarni untuk menyerahkan Rakhmah, akhirnya Tuan Gulam Kodir membebaskan semua piutangnya dan menghadiahkan dua potong kain yang diminta Bi Sarni dan Karta. Dengan sisat Bi Sarni dan setahu Gan Adung, akhirnya Siti dituduh telah berbuat serong dengan Tuan Gulam Kodir. Sebagai buktinya ialah kedua potong kain itu, yang ditemukan di bawah tikar tempat tidur Siti Rakhmah. Gan Adung menyiksa dan dengan paksa mengusir istrinya pada malam hari di tengah hujan lebat, angin, dan halilintar.
Berangkatlah Siti Rakhmah, meninggalkan rumah itu, melewati kampung Situ Saeur, daerah Cipaganti, Lembang dan Cikidang. Sebelum sampai ke Cikawati, perutnya mulai terasa mulas hendak melahirkan. Akhirnya, ia dengan selamat melahirkan di sebuah dangau di tengah kebun jagung, bayinya ditinggalkan di sana. Bayi itu kemudian ditemukan oleh Bapa Ispa dan Ambu Ispa, pengurus kebun itu, lalu diserahkan kepada Mas Wiria pemilik tanah itu yang tinggal di Bandung. Anak itu kemudian diberi nama Mugiri untuk mengenang bahwa ia ditemukan di Gunung (Giri).
Siti Rakhmah sampai ke pasar Cikawari yang terletak di depan gudang kopi, lalu duduk di belakang sebuah jongko. Di sana ia diusir pedagang dengan tuduhan sering mencuri barang dagangannya. Rakhmah menyingkir, berteduh di bawah sebuah pohon. Di situlah ia terkenang akan nasihat-nasihat ayahnya yang berkata bahwa ayahnya tidaklah hendak memaksa dalam menentukan pilihan pasangan hidup anaknya, tetapi anak sendiri harus matang memperhitungkannya supaya tidak berakhir dengan penyesalan. Di situ pula ia ingat akan kebengisan suaminya. Oleh karena kuatnya lamunan itu akhirnya Rakhmah mengamuk, bertingkah seperti orang gila. Ia ditangkap beramai-ramai, disekap dalam sebuah kamar kosong di rumah seorang pensiunan lurah. Kemudian ia dijadikan pembantunya, tetapi tiga bulan kemudian terpaksa harus pergi lagi karena ternyata lurah itu telah memaksanya untuk dijadikan istri muda.
Siti Rakhmah sampai ke Puncak Eurad, sebuah kampung di gunung, perbatasan antara Bandung dan Karawang. Ia diangkat anak dan bekerja pada Mak Ijah, seorang perempuan tua penjual cendol. Setelah enam bulan berlalu, berangkatlah keduanya ke Subang. Mak Ijah bermaksud menengok anaknya, Juki yang bekerja sebagai mandor pabrik tapioka di sana. Siti Rakhmah ternyata dapat diterima sebagai juru tik di tempat Juki bekerja setelah di tes langsung oleh pemimpinnya seorang Belanda. Oleh karena Siti Rakhmat fasih pula berbahasa Belanda, langsung ia memperoleh gaji besar dan karena hematnya ia berhasil membeli tanah dan memiliki rumah sendiri. Ia selalu ingat akan nasihat-nasihat Mak Ijah, selalu berdoa untuk anaknya, serta berkeinginan bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.
Mugiri dimasukkan ke HIS partikelir oleh ayah angkatnya, kemudian dilanjutkan ke TS (sekolah pertukangan) agar kelak dapat menjadi opzichter atau montir. Menurut pikiran ayah angkatnya, bekerja seperti itu dapat merdeka. Sehari-hari ia terutama dididik akan kebaikan, kemanusiaan, menyayangi bangsanya, dan menolong orang yang sengsara. Ia pun dimasukkan pula kedalam perkumpulan Palvinder Nonoman Indonesia (PNI) dan diharuskan belajar olah raga. Sementara Mugiri di TS, ibu angkatnya menderita sakit, kemudian meninggal. Di samping mengucapkan beberapa amanat, sebelum meninggal ibu angkatnya berdoa agar Mugiri dipertemukan kembali dengan ibu kandungnya.
Setelah lama hidup dalam kesenangan. Siti Rakhmah, Mak Ijah, serta Juki sekeluarga berangkat dari Subang menuju Puncak Eurad, Cikawati dan mengunjungi dangau tempat Mugiri dilahirkan. Kepada penggarap kebun, Siti Rakhmah menyatakan niatnya untuk membeli kebun itu. Di tempat itu akhirnya ia bertemu dengan pemilik kebun itu, yaitu Mas Wiria beserta Mugiri. Atas desakan Mas Wiria, yang berpura-pura tidak mau menjual kebun itu, akhirnya Siti Rakhmah terpaksa berterus terang menceritakan kisah hidupnya mengapa ia berkeras hendak membeli kebuin itu. Kemudian terbukalah rahasia Siti Rakhmah bahwa Mugiri adalah bayi yang dulu ditinggalkannya. Tidak lama kemudian setelah Siti Rakhmah disahkan perceraiannya dengan suaminya oleh pengadilan agama Islam, ia pun menikah dengan Mas Wiria, kemudian pindah ke Bandung. Namun, tiga tahun kemudian Mas Wiria meninggal.
Sementara ibu dan anak masih dalam suasana berkabung, terjadilah usaha penggarongan ke rumahnya karena terdengar jumlah warisan yang mereka miliki. Kedua pencuri itu ternyata Gan Adung dan Karta. Dalam pergumulan malam itu Gan Adung tertikam oleh pisau Karta. Sebelum ia menghembuskan napas terakhir, ia masih dikenali oleh Siti Rakhmah dan masih sempat diberitahu bahwa Mugiri adalah anaknya.
Siti Rakhmah akhirnya kembali kepada orang tuanya dan diterima oleh mereka dengan penuh kegembiraan bercampur kesedihan.


PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

NEANGAN

Sebuah kumpulan carita pondok (ceritera pendek) karangan Caraka (nama samaran), diterbitkan di Bandung oleh penerbit Kiwari tahun 1962, dan tebal 104 halaman. Dalam buku ini dimuat empat buah cerita pendk, berturut-turut dengan judul  “Neangan” (mencari) “Pacul” (Cangkul) “Pikun” (pikun) “Minantu” (menantu).
Sebelum dibukukan dua buah diantaranya pernah dimuat dalam majalah, yaitu “Pacul” pada majalah Sunda II (24), 31 Agustus 1953 dan “Neangan”, majalah Sunda III (11/12), 20 dan 30 April 1954. ceritera pendek “Neangan” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diantologikan bersama sembilan cerpen Sunda lainnya (Rosidi, 1970), Ajip Rosidi (1966: 152-153): 1983: 178-183) menyajikan tinjauan kritik atas cerpen-cerpen yang dimuat dalam kumpulan ini.

Ringkasan Ceritera
Carita pendek “Neangan” menceritakan tokoh “aku” yang mulai jemu dengan kehidupan pegawai kantor yang rutin, yang serba terikat oleh ketentuan waktu. Dalam masa cuti, ia mencoba mencari adakah gerangan kehidupan lain yang serba lepas dan bebas.
Ia memulai perjalanannya dengan naik kereta api dan berhenti di sebuah stasiun, di mana telah terlihat pemandangan yang menarik, bukit-bukit kecil dengan jalan yang berkelok-kelok. Dengan menyusuri jalan setapak diantara kebun, akhirnya ia sampai ke sebuah ladang yang sedang diolah. Ia duduk berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang. Beberapa anak datang mengelilinginya, anak yang terbesar mengatakan bahwa ia sedang mengasuh adik-adiknya karena kedua orang tuanya sedang bekerja di ladang.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan, tokoh aku sampai ke sebuah pancuran dan menemukan seorang gadis yang sedang mandi. Ia mengikuti gadis itu pulang ke rumahnya. Ternyata rumahnya kosong karena kedua orang tua gadis itu masih berada di sawah.
Tokoh aku menginap di rumah orang tua gadis itu. Manakala ia bangun, rumah itu sudah kosong pula karena penghuninya sudah sejak pagi buta pergi untuk meneruskan pekerjaannya menggarap sawah. Demikian piula keadaannya rumah-rumah lain. Hanya anak gadis itu yang masih berada di rumah, karena ditugaskan menyediakan makanan oleh orang tuanya. Tokoh Aku mulai menyadari bahwa rupanya di mana pun semua orang terikat  dengan perjuangan hidupnya. Pada saat berdua, tokoh Aku mencoba mendekati gadis itu, maukah gerangan dibawa ke kota. Gadis itu mula-mula tidak menolak, kemudian bungkam dan akhirnya menggelengkan kepala. Tokoh Aku baru tahu kemudian dari seorang pengantar bahwa anak gadis itu bernama Warsih, dan konon akan diambil menantu oleh lurah di desa itu.
Dalam mencari tokoh Aku, hanya menemukan kenangan, yang tidak luput terkurung waktu antara senang dengan bimbang.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986