Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juni 2010

BENTANG PASANTREN

Novel karangan Usep Romli H.M. diterbitkan oleh Pusaka Dasentra tahun 1983. buku ini berukuran 18 x 12 cm, dengan tebal 72 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral, dan pendidikan. Motivasi dari orang tua, keluarga, dan teman sangat besar pengaruhnya dalam menggapai cita-cita. Belajar akan berhasil apabila disertai dengan tekun. Percintaan merupakan unsur penunjang dalam mencapai tujuan. Novel ini menggambarkan kehidupan santri di lingkungan pesantren.

Ringkasan Ceritera
Aep jatuh cinta pada Imas Patonah anak Abuya yang baru pulang qiro’at, Aep dapat bertemu dengan Imas karena Aep, setelah tamat SLP, dimasukkan pesantren yang diiring dengan doa dari orang tuanya serta pamannya untuk meneruskan jejak kakeknya.
Yang mencintai Imas bukan Aep saja, tetapi lurah santri dan para santri senior pun sama-sama mencintainya. Akhirnya terjadi perang dingin memperebutkan cinta Imas.
Imas berwudu dan bertemu dengan Aep, Imas lari, akibatnya jatuh di pinggir rumah, sandal Imas tertinggal dan tidak sempat diambilnya. Imas terus pulang. Sandal Imas diambil Aep untuk dikembalikan.
Aep mendapat hukuman karena melanggar peraturan, yaitu meninggalkan mengaji dan salat berjamaah sewaktu mau bertemu dengan Imas di Ciporang. Hukumannya bertambah berat karena bertemu Imas ketika berwudu dan menempeleng Si Jumad karena menyindir kehilangan sandal.
Aep mengembalikan sandal dan mengirim surat pada Imas serta mendapat jawaban. Aep mendapat hukuman; kepalanya digunduli sebelah. Hukuman itu tidak menyebabkan Aep menjadi putus asa, melainkan dijadikan cambuk semangat belajar, apalagi setelah mendapat surat dari ayahnya dan pepatah dari pamannya, serta sahabatnya Padil dan juga Imas. Aep semakin rajin mengaji serta privat ngaji pada Abuya (kiai).
Ketika liburan mengaji, Aep pergi bermain ke kampung padil. Di perjalanan ia bertemu Imas, yang secara tidak sengaja mempunyai tujuan yang sama dengan temannya. Dalam perjalanan itu Aep dan Imas dapat berpadu janji hidup bersama, tetapi setelah sama-sama menyeleseaikan ngaji.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

BUDAK MINGGAT

Novel karangan Samsudi, cetakan pertama diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, tanpa tahun. Cetakan kedua diterbitkan oleh Pusaka Sunda bandung tahun 1965. buku ini trdiri atas dua jilid, masing-masing tebalnya 70 dan 75 halaman, berukuran 17 x 12 cm.
Novel ini mengungkapkan nilai-nilai pendidikan, seperti kejujuran, keteguhan hati, dan kesetiaaan. Dalam buku ini diungkapkan pula nilai-nilai sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat kuli perkebunan pada jaman penjajahan Belanda. Si Kampeng pelaku utama dalam novel ini, oleh pengarang digambarkan seadanya tanpa dibuat-buat, sehingga sosok peribadinya muncul secara lengkap, baik kejujurannya maupun kenakalannya.

Ringkasan Ceritera
Seorang anak Si Kampeng namanya, berusia 16 tahun. Ayahnya telah tiada. Ia berada di bawah asuhan ayah tirinya.
Ayah titinya sering menasehati dan memarahi Si Kampeng karena Kampeng terlalu senang bermain dan lupa membantu ayah tirinya yang pemarah.
Pada suatu senja. Kampeng disuruh oleh ayah tirinya membeli tembakau dengan dibekali uang satu rupiah. Pada saat ia akan membayarkannya, uang itu hilang. Ia pulang ke rumah tanpa tembakau. Marah ayah tirinya menjadi-jadi, meskipun ibunya turut membela Kampeng. Sebuah tamparan mendarat di pipi ibu Kampeng, ketika tamparan kedua akan mendarat di pipi ibu Kampeng, ia mencegahnya karena tidak tega melihat ibunya teraniaya. Ia menerjang tulang rusuk ayah tirinya. Darah pun muncrat dari kepala ayah tirinya yang luka membentur tiang. Kampeng kaget dan ketakutan, pikirannya kalut dan bingung, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Kemudian Kampeng pun larilah, minggat tanpa tujuan.
Dalam perjalanan minggatnya, Si kapeng ditipu orang. Ia terjual ke Deli, menjadi kuli perkebunan. Akan tetapi karena usia Kampeng masih terlalu muda, dia tidak jadi dipekerjakan sebagai kuli. Seorang Cina membawanya ke pulau Bengkalis untuk dipekerjakan sebagai penebang kayu di hutan belantara. Kampeng bertemu dengan mandor-mandor yang galak dan kejam. Untunglah dia bertemu dengan teman senasib anak Cina, Kim San namanya.
Pada suatu hari, ketika Kampeng sedang menebang pohon di hutan, Kim san sakit berat. Tidak seorangpun mau menolong, kecuali kampeng. Hujan turun dengan lebatnya. Seekor harimau besar tiba-tiba muncul dan mengaum menyeramkan. Si Kampeng lari terbirit-birit sambil kepayahan menggendong Kim San yang sakit menuju sebuah los. Demikian Kampeng memasuki pintu los, kepala harimau pun nongol di lubang pintu. Kampeng tak menyia-nyiakan kesempatan, leher harimau itu secepatnya dijepit dengan daun pintu dengan sekuat tenaga yang masih tersisa padanya. Harimau mati setelah berontak meronta-ronta karena lehernya tercekik oleh daun pintu, Kampeng selamat, orang-orang yang berada di sana semuanya memuji keberanian Kampeng.
Serombongan pemeriksa datanglah ke hutan penebang kayu, tempat Kampeng menyandang derita. Kampeng diberi kesempatan melaporkan tentang kehidupan kuli-kuli disana. Akibatnya, banyak mandor kejam yang diberhentikan. Kampeng diperbolehkan keluar dari tempat penebangan kayu, sebagai penghargaanatas laporan yang diberikannya dan karena usia Kampeng yang masih sangat muda.
Pergilah kampeng ke kota Bengkalis. Di sana dia menjadi tukang tembok atas pertolongan Arsim dan Akbar. Kampeng bekerja tekun dan sungguh-sungguh sehingga mendapat kepercayaan majikannya, akibatnya, Kampeng dibawa pindah majikannya ke Padang. Di sana Kampeng bekerja lebih rajin lagi, namun karena Kampeng sangat disayangi majikannya, dia dibenci dan bahkan difitnah oleh pegawai-pegawai lain. Kampeng minta berhenti bekerja di sana. Kampeng memperoleh pekerjaan lain menjadi tukang kayu dan membuat jembatan. Dia tetap bekerja rajin, sungguh-sungguh dan jujur. Majikannya yang baru ini pun menyayanginya pula.
Rasa rindu kampung halaman datang mencekam perasaan Kampeng. Setelah cukup uang tabungannya, dia pulang ke Jawa. Dalam perjalanan pulang ke pulau Jawa, Kampeng mampir belanja di pasar Golodog. Secara kebetulan, dia disana berjumpa dengan Kim San, orang yang pernah ditolongnya ketika sakit di tengah hutan penebangan kayu. Kim San kini telah menjadi seorang pedagang kain. Sebagai tanda terima kasih Kim San pada Kampeng, Kim Sanmemberikan sejumlah kain dan uang.
Kampeng meneruskan perjalanan pulang ke kampung. Pulanglah Kampeng, si anak hilang ke pangkuan ibunya. Betapa bahagia  hati seorang ibu yang menemukan kembali anaknya yang sudah dianggap hilang.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

BUDAK TEUNEUNG

Novel ini karangan Samsudi, cetakan pertama dan kedua dikeluarkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, tanpa tahun dan cetakan ketiga diterbitkan oleh Pusaka Sunda, bandung tahun 1965. buku ini berukuran 17 x 12 cm, dengan tebal 58 halaman.
Novel ini mengungkapkan masalah kehidupan anak-anak dalam sosok yang lebih lengkap. Gambaran Si Warji ditampilkan sebagaimana lazimnya kebanyakan anak-anak seusia dia di kampung-kampung. Novel ini mengandung unsur-unsur pendidikan yang mengetengahkan sifat-sifat kejujuran, kesabaran, dan kesetiaan yang terjalin dalam kehidupan orang desa.

Ringkasan Ceritera
Seorang anak yatim Si Warji namanya. Dia berumur kurang lebih sebelas tahun. Bersama ibunya, dia menempati sebuah rumah kecil yang sudah reyot. Walaupun mereka hidup dalam kemiskinan, ibu Warji tidak pernah kehilangan cinta kasih san selalu menasehati Warji agar menjadi anak yang jujur, penyabar, pemaaf dan mau mengalah demi kebaikan.
Cobaan demi cobaan harus dihadapi Warji dengan tabah. Dia sering mendapat perlakuan yang kurang senonoh hanya lantaran Warji bukan anak orang kaya. Warji dihina, dikucilkan, malahan teraniaya oleh anak-anak lain yang dimanja oleh orang tuanya seperti Si Begu dan Si utun.
Pada suatu ketika, Warji dapat menolong Asep Onon, anak Lurah yang terjerumus ke dalam sebuah sumur kering. Sejak itulah Warji menjadi kawan Asep Onon yang semula membencinya. Sebagai tanda terima kasih atas pertolongan Warji, Pak Lurah mengangkat Warji menjadi penggembala kerbau.
Keluarga Pak Lurah sangat menyayangi Warji, dan Asep Onon menjadi teman akrab Warji. Warji sering diajari membaca dan menulis oleh Asep Onon. Oleh karena Warji rajin dan berotak encer, dalam waktu yang tidak begitu lama dia sudah dapat membaca dan menulis.
Pada suatu hari Asep Onon berkelahi dengan Si Begu dan Si utun. Untunglah Si Warji segera datang sehingga Si Begu dan Si Utun dapat dikalahkan oleh Si Warji.
Setelah bertahun-tahun Warji hidup mengikuti Pak Lurah, akhirnya dia diangkat menjadi salah serang pegawai desa, sedangkan Si Begu dan Si Utun terlanjur nakal kemudian menjadi penjahat.
Kejahatan Si begu dan Si utun baru berhenti setelah Si Warji dengan teuneung dan penuh keberanian menangkap mereka dan menyerahkannya kepada yang berwajib. Sebagai tanda penghargaan. Warji menerima hadiah dari Bapak Lurah.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

BURON

Novel karangan Aam Amalia ini diterbitkan oleh Pustaka Dasentra Bandung, tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 131 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan nilai-nilai pendidikan. Manusia jangan terlalu cepat dalam mengambil tindakan dan jangan membohongi diri sendiri dengan menyebutkan hasil karangan sendiri padahal sebenarnya karya orang lain. Perbuatan ini munafik, yang membuat diri terasa jadi buron dari kehidupan dan dari perasaan sendiri. Novel ini menggambarkan perbandingan kehidupan kota dan kampung.

Ringkasan Ceritera
Kedatangan Bi Umi ke kampung Pa Ulis, menjadi pembicaraan orang, karena Bi Umi disangka gila. Ketika Alan, anak dokter, ikut melihat Bi Umi, Alan luka kakinya, Bi Umi yang disangka gila itu malahan merawat Alan.
Ketika Bi Umi sedang ngobrol dengan Alan, datanglah Pa Ulis, ayah Alan, dan banyak orang lainnya. Bi Umi ditempeleng oleh Pak Ulis dengan tuduhan ia telah mengganggu anak-anak. Namun ayah Alan segera melarangnya.
Bi Umi diberi uang oleh ayah Alan serta ucapan terima kasih telah merawat anaknya. Pa Ulis ingin menukar uang Bi Umi dengan uang yang tidak berlaku. Namun Bi Umi tidak memberikannya sebab dia tidak gila. Alan sendiri sering mengatakan pada temannya bahwa Bi Umi itu tidak gila.
Andika, suami Umi, datang dengan wajah yang sedih akibat naskahnya ditolak redaksi yang menggalkan cita-citanya akan membeli kursi. Namun suatu hari Andika membawa kursi yang mahal serta merahasiakan pada Umi cara mendapatkan uangnya, selain kursi alat rumah tangga lainnya pun dibelinya. Alhirnya Andika memberitahukan pada Umi tentang pekerjaannya, yang disangka toko buku tetapi di dalamnya ganja dan morfin. Dengan kejadian itu Andika mengajak pindah rumah ke desa S di kaki Gunung Galunggung karena ada perasaan takut dikejar polisi dan sindikat.
Naskah karya Andika dari desa S harus Umi antarkan ke kantor surat kabar dan majalah di kota B serta harus diakui sebagai karyanya. Amara dari majalah Wanoja mendesak identitas dan kemampuan Umi sebagai pengarang. Umi pernah diberi undangan menghadiri pertemuan Paguyuban Sastrawan Sunda; Umi tidak menghadiri karena takut dan merasa tidak mampu.
Umi pergi ke kota B lagi mengambil honor. Tiba-tiba ada berita Gunung Galunggung meletus. Segeralah Umi pulang untuk menemui Andika, tetapi Andika sudah tidak ada di rumah.
Umi bergabung dengan para korban Galunggung di barak tempat penampungan korban. Umi pergi ke rumah nenenk Bi Mursih sambil membawa perban dan obat-obatan. Rumah nenek Bi mursih sudah kosong. Sekarang Umi tinggal sendirian
Umi pernah mengejar laki-laki yang mirip dengan suaminya. Laki-laki tersebut lari sambil mengatakan orang gila berulang-ulang pada Umi. Akibatnya, Umi disangka orang gila di kampung itu.
Setela Umi merawat Alan anak dokter, teman-teman Alan mengatakan bahwa Bi Umi tidak gila dan mengundang Bi Umi untuk datang ke rumah dokter. Di sanalah dokter menceritakan bahwa Paguyuban Sastrawan Sunda sudah mengetahui Umi ada di sini dan akan menjemputnya. Banyak orang berkumpul di rumah dokter mau minta maaf pada Umi.
Asmara datang ke rumah dokter untuk menemui Umi dengan membawa surat dari Andika yang isinya mengatakan bahwa di dunia ini penuh dengan kemunafikan dan mereka akan melepaskan diri dari buron kehidupan yang ada dalam perasaannya serta memilih tempat kampung Ck yang merupakan kombinasi keadaan kota dan kampung sebagai tempat tinggal baru.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

CINTA PABALIUT

Novel karangan Eddy D. Iskandar, diterbitkan oleh Pustaka Dasentra, bandung, tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 79 halaman.
Dalam novel ini, pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan pendidikan. Cinta terhadap kebudayaan dapat timbul akibat cinta kepada pelakunya. Cinta dapat putus daripada putus persahabatan. Cinta dapat membara karena sering berjumpa. Novel ini menggambarkan suasana lingkungansekolah dan lingkungan seni, yang diungkapkan dengan penuh romantis dalam dialog

Ringkasan Ceritera
Jaka jatuh cinta pada Titut Kartasasmita, murid kelas tiga SMA teman sekelasnya. Jaka memuji Titut, tetpi Titut tetap menolak cinta Jaka.
Titut dinasehati oleh ibunya supaya tidak terganggu sekolahnya dan jangan terbawa pergaulan bebas, masalah memilih calon suami pun harus diutamakan keturunan, rajin ibadah, cintanya sejati, serta harta juga harus diperhatikan.
Titut diajak melihat pembacaan sajak oleh Imas, teman sekelasnya. Namun, di perjalanan sepeda motor Imas mogok dan diperbaiki oleh seorang pemuda. Tiba-tiba Titut mulai jatuh cinta pada pemuda itu.
Di tempat parade Panyajak Sunda 1982, Titut semakin tertarik kepada pemuda yang memperbaiki motor itu, Darma Kancana namanya. Titut sempat mengucapkan selamat serta kenalan kepada Darma setelah Darma membacakan sajak. Darma Kencana adalah mahasiswa Fakultas Sastra Sunda yang disenangi teman-temannya, Nia dan Meiske yang cantik pun tertarik pada Darma. Namun Darma tidak meresponnya. Titut dan Imas dapat bertemu lagi dengan Darma di depan pintu bioskop.
Jaka mencoba kesungguhan Titut di kelas, apakah Titut mencintai Jaka atau tidak; kalau Titut tidak mencintai Jaka, yang akan mengalihkan cintanya pada Imas, teman Titut.
Imas dan Titut datang pada acara Pagelaran Seni Sunda Dasentra 1983 dan melihat Darma Kancana tampil dalam acara itu. Titut menyesal tidak mempunyai kesempatan menemui Darma Kancana.
Titut semakin menyenangi kesenian Sunda dan mendapat pujian dari orang tuanya yang menaruh simpati pada seni Sunda. Imas menyenangi seni Sunda sejak kecil sebab ayahnya adalah Pembina Kesenian Tradisional Daerah.
Darma Kancana datang ke rumah Imas untuk menemui Angkawijaya memperbincangkan gending karesmen Sangkuriang kabeurangan.
Titut bertemu dengan Darma Kancana di lapang olahraga dan sempat bertanya. Nia pun dapat berdialog dengan Darma dengan alasan minta diajari mengarang.
Titut berkunjung ke kampung halaman Imas di Neglasari Ciwidey. Tanpa diduga-duga ia dapat bertemu dengan Darma. Titut pernah berbicara berdua dengan darma di sawah. Namun, masalah cinta belum dapat disinggung-singgung.
Kedatangan Darma Kancana ke rumah Imas semakin sering. Semula Imas tidak mempunyai curiga apa-apa. Empat malam Minggu berturut-turut berkunjung pada Imas. Imas pernah diajak menonton dan masuk restoran. Akhirnya Darma terus terang pada Imas melalui surat menyatakan cinta. Imas heran sebab semula Darma ini akan menjadi pacar Titut, walaupun begitu sebenarnya Imas juga cinta kepada Darma. Keputusan Imas lebih baik tidak menerima cinta Darma daripada putus persahabatan dengan Titut; Imas tahu Titut sangat mencintai Darma Kancana.
Jaka yang sudah lama jatuh cinta pada Titut, datang malam Minggu ke rumah Imas minta diantar main ke rumah Titut.
Rasa asmara Jaka yang sudah bergejolak, terhenti ketika mau masuk ke rumah Titut sebab sudah ada pemuda yang baru masuk yaitu Darma. Jaka menyesal dan bingung. Ia pulang kembali bersma Imas dengan membawa rasa kesal.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

LEMBUR SINGKUR

Novel karangan Abdullah Mustappa, diterbitkan oleh Mitra Kancana di Bandung, tahun 1980. buku ini berukuran 17 cm x 12 cm, tbal 59 halaman
Dalam novel ini pengarang mengungkapkan konflik batin para pelaku, terutama pelaku utama “kuring” (aku), yang mengalami cobaan hidup tidak henti-hentinya. Tragedi keluarga itu bermula setelah suami dan ayah mereka pergi ke hutan menjadi anggota gerombolan DI. Namun keluarga itu menghadapinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
Novel ini dilatarbelakangi kehidupan masyarakat sebuah kampung terpencil (lembur singkur) yang jauh dari kota yang terus menerus diganggu gerombolan, terutama pada malam hari.
Pengarang bercerita dengan menggunakan gaya aku tentang sebuah keluarga yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan suami/bapaknya karena masuk hutan mengikuti gerombolan. Seorang ibu dan tiga orang anaknya, yaitu Hadi, Ahmad dan kuring sudah sangat mendambakan kembalinya ayah ke rumah, tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang karena meninggal di hutan
Pemilihan dan pengolahan kata-kata yang disusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana, mencerminkan kesederhanaan para pelaku dalam novel ini.

Ringkasan Ceritera
Di sebuah kampung yang terpencil dan jauh dari kota, tinggalah sebuah keluarga, yang terdiri atas ibu dan tiga orang anak yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan oleh suami/bapaknya karena ia masuk hutan menjadi anggota gerombolan DI.
Tokoh utama kuring (aku), sudah sangat mendambakan hadirnya seorang ayah di rumah. Tokoh kuring belum pernah mengenal wajah ayahnya karena ketika ia ditinggal pergi ke hutan ia masih bayi. Tokoh kuring sering bertanya tentang ihwal ayahnya, baik kepada ibunya maupun kepada kakaknya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Seorang laki-laki pernah ada secara sembunyi-sembunyi memasuki rumah pada tengah malam, tetapi tokoh kuring tidak mengenalnya. Menurut kakaknya, orang itu adalah ayah mereka.
Oleh karena ulah sang ayah yang menjadi anggota gerombolan, keluarga itu tidak henti-hentinya dirundung malang’ dicurigai tentara, ditahan di markas tentara, dianggap mata-mata, disiksa, dan berbagai penderitaaan lainnya.
Setelah kampung menjadi aman, banyak gerombolan yang turun dari hutan menyerahkan diri kepada tentara. Ibu dan anak-anaknya dibebaskan dari tahanan. Mereka berharap di antara gerombolan yang menyerah itu akan terdapat suami/ayah mereka. Namun setelah mereka bertanya ke sana ke mari, hanya berita kematian saja yang didapatnya.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

MANUK HIBER KU JANGJANGNA

Novel karangan Soeratmi Soedir Soewandi, diterbitkan oleh Pusaka Sunda di Bandung tahun 1965. buku ini berukuran 21 x 15 cm, tebal 72 halaman serta berbentuk prosa dan puisi (pupuh).
Dalam novel ini pengarang mengemukakan nilai-nilai pendidikan yang diungkapkan melalui perjuangan hidup tokoh utama, seorang anak laki-laki yang ingin keluar dari himpitan kesengsaraan sehingga menjadi orang yang hidup senang.
Pelaku utama, Rahim digambarkan oleh pengarang sebagai seorang anak yang ideal, yang kelakuannya tanpa cacat, ia teladan, baik budi, soleh, rajin, pandai, dan terampil. Rahim digambarkan oleh pengarang sebagai seorang anak yang mulus tanpa sipat-sipat kenakalan sebagaimana lajimnya seorang anak.
Novel ini dilatarbelakangi kehidupan kampung yang tdak aman, karena gangguan gerombolan dan kemudian pindah ke kota.

Ringkasan Ceritera
Pada suatu malam, kampung Madhasim, sebuah kampung yang jauh dari kota yang selalu menjadi sasaran gangguan gerombolan, diserang gerombolan. Rumah-rumah dibakar, penghuninya dibunuh, dan harta bendanya dirampok. Madhasim tertembak dan akhirnya tewas setelah sempat dirawat di klinik para tentara.
Sepeninggal Madhasim, keluarganya jatuh miskin dan terlunta-lunta. Ahmad, anaknya yang sulung pergi mengadu nasib ke kota, sedangkan Rahim adik Ahmad, menumpang hidup pada keluarga Mantri Guru.
Keluarga Mantri Guru sangat menyayangi Rahim. Dia disuruh sekolah bersama-sama dengan Maman, anaknya yang sebaya dengan Rahim. Rahim adalah seorang anak yang jujur, rajin, terampil, cerdas, cekatan, dan tahu akan tugas yang diberikan kepadanya. Di sekolah, dia mempunyai kemampuan yang menonjol dalam mengarang. Tulisannya kadang-kadang dimuat dalam surat kabar, khusus kolom bacaan anak-anak. Honorarium yang ia terima ditabungkannya pada sebuah celengan.
Pada suatu waktu Mantri Guru pindah tugas ke kota, Rahim pun mengikutinya. Maman melanjutkan sekolah ke SMP, sedangkan Rahim ke SGB, karena SGB menyediakan ikatan dinas yang dapat meringankan beban biaya sekolah. Setelah Rahim lulus SGB, ia diangkat menjadi guru sekolah di kota kecil.
Rahim mengajar dengan sungguh-sungguh. Setelah ada kesempatan memanfaatkan waktu luang dia mendaftarkan diri untuk mengikui kurus persamaan SGA. Hidup Rahim mulai senang; uang gaji disisihkannya sebagian untuk membiayai hidup ibunya.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

NENG YAYA

Sebuah novel yang dikarang oleh Yuhana (nama samaran). Diterbitkan di Jakarta (Batavia) oleh penerbit Boekhandel Krakatau, tahun 1923. novel itu terdiri atas dua jilid. Novel ini menceritakan kisah cinta atau pergaulan bebas di kalangan remaja terpelajar. Latar tempat peristiwa ialah di Bandung dan sekitarnya, yaitu Cimindi, Padalarang di sebelah barat kota Bandung dan dayeuhkolot di sebelah selatan kota Bandung.

Ringkasan Ceritera
Neng Yaya adalah seorang gadis yang sedang meningkat dewasa. Ia anak Raden Sumamijaya, seorang bekas mantri gudang kopi di Cikawati yang kemudian tinggal di Cibeureum desa Cimahi dan tergolong orang berada.
Kedatangan Akhmad, pacar neng Yaya pada suatu sore adalah untuk mengajak menonton tonil di Schowburg yang diselenggarakan oleh Jong Java. Dari percakapan mereka jelas bahwa keduanya adalah muda-mudi yang bergaul bebas, senang berpesta dan berdansa. Ibu Neng Yaya amat membanggakan dan melebih-lebihkan kepandaian anak tunggalnya itu. Di depan Akhmad dengan bangga ia menyebut beberapa nama pemuda yang pernah menyatakan niatnya untuk mempersunting anaknya itu. Semuanya ditolak karena konon mereka itu tata hidupnya ke-Belandaan. Anaknya sendiri tidak mau menerima yang berpaham kuno
Sikap yang membebaskan anaknya bergaul dan bebas mengikuti mode-mode kaum muda ke Belandaan itu ternyata agak bertentangan dengan sikap suaminya, Raden Suma tidak menolak pergaulan pwmuda dan pemudi tetapi selama dalam batas-batas kewajaran, tidak pula terlalu kukuh seperti yang diharuskan oleh agama Islam. Pertentangan paham di antara suami istri itu meningkat menjadi percekcokan kecil dan istrinya berkali-kali menyebut suaminya sebagai kaum-kuno.
Di Showburg, Neng yaya diperkenalkan kepada Saleh, sahabat Akhmad. Pemuda ini anak seorang saudagar kaya di Banten, hidupnya dimanja dan tinggal indekos pada keluarga Tuan Biren di Merdeka Park. Pertunjukan amal yang diselenggarakan oleh Jong Java itu menceritakan sepasang muda-mudai yang sedang bercinta, tetapi kemudian keduanya bunuh diri karena hubungan mereka tidak disetujui orang tuanya. Dalam mengomentari lakon itu, Neng Yaya, Akhmad dan Saleh sepakat bahwa orang tua tidak perlu ikut campur.
Setelah perkenalan pertama itu, Saleh sering datang sendirian ke rumah Neng Yaya. Pada suatu tamasya berdua ke Sangkuriang, sebuah tempat pesiar di Dayeuhkolot, pergaulan mereka semakin akrab melebihi batas persahabatan. Keduanya saling menyatakan jatuh cinta, sekalipun Neng Yaya ingat bahwa ia telah berjanji akan menikah dengan Akhmad.
Sementara itu seorang pemuda bernama Raden Sastra Senjaya, klerk stasiun kereta api di Padalarang adalah seorang pemuda yang cakap, berbudi terpuji, masih membujang, dan hidup sendiri menyewa sebuah rumah. Atas petunjuk Kartobi seorang tukang rem kereta api. Raden Sastra berusaha mendekati Neng Yaya melalui Haji Bakri. Aji ini seorang pemilik perusahaan genteng yang sering memesan gerbong barang. Ia sahabat Raden Soma, ayah neng Yaya.
Setelah beberapa kali bertemu dengan Neng Yaya, Raden Sastra bulat hatinya untuk meminang gadis itu dan Haji Bakri di samping memberikan dorongan juga memberikan jaminan akan diterimanya lamaran itu, serta kebaikan sifat gadis itu. Namun, sebenarnya terutama mempermudah usahanya dalam memesan gerbong-gerbong barang.

………………………………………………………………………………………………………………………………………… bersambung ke buku 2, namun buku 2 tidak ditemukan ……………..

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

NGANTI NGANTI DAWUH

Novel karangan Karna Yudibrata, diterbitkan oleh Tarate di Bandung, tahun 1967, berukuran 18 cm x 13 cm, tebal 38 halaman.
Dalam novel ini, pengarang mengungkapkan masalah keluhuran budi dan kehalusan perasaan, yaitu ketaatan, kesetiaan, dan ketulusan hati serta pengorbanan seorang anak perempuan dalam berbakti kepada orang tuanya yang sakit menahun. Tokoh utama Noneng sangat teguh memegang amanat orang tua, meskipun ia mesti banyak berkorban dan menanggung resiko mnderita selama merawat orang tuanya yang sakit berkepanjangan. Kegetiran, kepahitan dan penderitaan hidup Noneng silih berganti dari hari ke hari. Namun hal ini tetap diterimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan, sambil berusaha keras mencari jalan keluarnya. Novel yang berlatar belakang kehidupan petani desa ini menggambarkan konflok batin yang keras pada diri seorang anak perempuan (Noneng) sebagai pelaku utama anatar kepentingan pribadi yang sudah biasa hidup di kota dan kewajiban merawat orang tua yang bertahun-tahun sakit-sakitan di kampung. Konflik batin pelaku utama menjadi semakin menonjol karena salah seorang saudaranya yang bernama Sudira yang tinggal berdekatan di kampung tidak mau tahu akan keperluan perwatan orang tuanya, malahan ia dengki kepada Noneng dan menunggu saatnya datang warisan sawah dan ladang dari orang tuanya yang masih tetap bertahan hidup.

Ringkasan Ceritera
Bsudah bertahun-tahun Noneng meninggalkan kampung halaman dan orang tuanya, hidup menjanda di kota bersama dengan tiga orang anaknya. Anaknya yang sulung sudah menjadi mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi di kota itu.
Pada suatu hari Noneng menengok orang tuanya di kampung. Akan tetapi ketika ia akan kembali ke kota, orang tuanya meminta dengan sangat agar ia mau tinggal di kampung untuk merawat mereka yang sudah mulai udzur. Meskipun di kampung sebenarnya masih ada kakaknya Noneng, yaitu Sudira, tetapi kedua orang tuanya tetap meminta Noneng untuk sudi merawatnya, karena Sudira acuh tak acuh. Pada mulanya, Noneng menolak dengan halus, karena dia sudah banyak keterikatan di kota, terutama kepentingan sekolah anak-anaknya. Bagaimana pengasuhan dan bimbingan langsung seorang ibu sangat dibutuhkan anak-anaknya. Namun oleh karena ayahnya mendesak terus menerus, akhirnya Noneng mengalah menuruti kehendak orang tuanya . pulanglah Noneng ke kampung.
Pada suatu hari ayah Noneng berpulang ke ramatullah meskipun sebenarnya di luar dugaan Noneng karena yang sakitnya lebih parah justru ibunya, tetapi masih tetap bertahan.
Pada suatu hari, ibunya meninggal dunia. Noneng menerima kematian itu sebagai sesuatu yang sudah semestinya. Sudira yang juga turut menyaksikan saat-saat ibunya menghembuskan nafas yang terakhir, tidak kuat menahan air mata dan menangis tersedu-sedu, menangis karena pedih dan tersedu karena pilu.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

Ngepung KAHAR MUZAKKAR

Novel karangan Adang S, diterbitkan oleh Pustaka Dasentra di Bandung, tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm dan tebal 140 halaman.
Dalam nobel ini pengarang mengemukakan maslah ajaran moral dan pendidikan. Perjuangan kalau tidak dibarengi dengan pengorbanan tidak akan berhasil dan manusia jangan meninggalkan badan. Metode menentukan hasil perjuangan. Novel ini menggambarkan ABRI menangkap Kahar Muzakkar di hutan belantara, yang diuangkapkan penuh humor dalam dialog yang enak dibaca.

Ringkasan Ceritera.
Tanggal 24 sampai dengan tanggal 28 Pebruari 1964 batalion 330?Kujang 1 Siliwangi Bandung, bersama teman saya menuju Sulawesi Selatan untuk berperang. Staf batalion tinggal di gedung Natiro Mata di Erekang, sedangkan saya bersama teman harus di Cakke dan tempat tinggalnya di bawah rumah rakyat. Setelah dua hari di Cakke, bertugas operasi ke hutan untuk mengontrol situasi yang dimaksud, setelah itu kembali lagi ke Cakke.
Hari kedelapan mengawal Dan Yon ke COP Batalion 303/Galuh dari Tasik di Baraka. Tiba-tiba ada berita di Enrekang ada 9 orang teman ditembak musuh.
Sajan pun mati jam 06.00 ditembak musuh. Tiga hari setelah kejadian itu saya harus bertugas di Buntutala yang subur, yang ditinggalkan penduduknya.
Kompi B dapat membunuh pimpinan gerombolan dan merampas senjatanya, lalu saya pulang ke Cakke. Setelah tiga hari meneruskan operasi ke Mario, Palopo Barat, tetapi tidak berhasil karena banyak lebah. Yang bertugas menyelidiki hutan itu Kujang Siliwangi, Raideres Kodam XIV, RPKAD, dan Brimob dengan pagarnya dari Batalion 330, 317 dan 324.
Dalih Andi Salle, pemimpin musuh, mengajak berunding dengan pimpinan saya Kol. M. Yusuf; nyatanya ia ingin membunuh Kol. M. Yusuf. Namun berkat pengorbanan Peltu Daud dan pertolongan Mahmud, Kol. M. Yusuf dapat diselamatkan kemudian terjadi peperangan. Perang semakin dahsyat. Musuh mundur dengan meninggalkan peralatan yang berat-berat.
Tanggal 10 April 1964 Polowali, pusat kekuatan musuh, dapat direbut dan istana Andi Salle dapat diduduki. Pasukan bertugas membasmi anak buah Andi Salle yang bersembunyi di rumah penduduk. Operasi kilat dibagi dua kelompok, yaitu Kompi B dan E, dipimpin Kapten Jaya dengan tugas mengejar gerombolan Andi Salle, sedangkan Kompi A, C dan D dipimpin Dan Yon dengan tugas mengejar Kahar Muzzakar di daerah tenggara.
Andi salle sampai lima bulan belum juga ditemukan, tetapi berkat Taddu tukang gergaji yang biasa membesuk Andi Salle beserta rombongannya, dia melapor pada Siliwangi; akhirnya Andi Salle diserang ke tempat persembunyiannya dengan petunjuk Taddu. Anak buah Andi Salle yang menyerah menceritakan bahwa Andi Salle telah mati akibat jatuh ke jurang san telah dikubur selama 10 hari. Untuk membuktikan kebenarannya mayat Andi Salle digali dari kuburan dan dirawat oleh keluarganya.
Saya mendapat tugas operasi lagi ke Batutandus, daerah yang minus di tenggara untuk membantu kompi lain. Di daerah inilah, Dedi, teman saya hanyut terbawa air ketika menyeberang, mayatnya pun tidak dapat ditemukan. Pagi-pagi berangkat dari Suasua menuju daerah tenggara. Perjalanan memerlukan waktu lima belas hari. Akibatnya kekurangan perbekalan sehingga dikirim dari kapal udara hercules.
Setelah menerima berita Kahar Muzakar tertembak sampai mati dari radio hubungan yang dilaporkan Danki D, semua merasa gembira. Kahar Muzakkar ditembak Ili Sadeli setelah mendapat petunjuk jalan dari anak buah Kahar Muzakkar yang menyerah dan menaruh simpati kepada pasukan Siliwangi. Matinya kahar Muzakkar itu tepat pada hari raya Idul Fitri. Tanggal 18 Maret tahun 1965 pasukan pulang ke Bandung.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

NUMBUK DI SUE

Novel karangan Moh. Ambri, diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta. Cetakan ketiga tahun 1964, sedangkan cetakan pertama dan kedua tanpa tahun. Buku ini berukuran 16 cm x 11 cm dan tebal 102 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan sikap para pelaku yang sungguh-sungguh melaksanakan niatnya, meskipun banyak sekali rintangan. Emang sebagai pelaku utama tetap berkeinginan melaksanakan niatnya meskipun ia sering mengalami nasib sial
Pengarang mengungkapkan suasana kehidupan dan keadaan alam yang dialami oleh tiga orang anak remaja, (berumur antara 13 – 16 tahun) dalam perjalanan darat dari Bandung menuju pantai Cilauteureun, Pameungpeuk, garut. Dengan pengamatan yang tajam dan teliti pengarang menggambarkan suasana batin para pelaku dengan hidup dan plastis.

Ringkasan Ceritera
Emang, Momo, dan Dace telah berjanji apabila mereka lulus ujian akan pergi bersama ke pantai Cilauteureun di daerah Garut Selatan. Emang berangkat dari Bandung, sedangkan Momo dari Leles dan Dace dari Cisompet.
Sejak dari Bandung, Emang sudah bernasib sial. Ketika ia jajan sate, uangnya ketinggalan di rumah. Kembalilah ia ke rumah dengan terburu-buru sambil menanggung malu. Demikian pula, ketika ia telah berangkat dari Bandung sesampanya di stasiun Leles, ia ketinggalan bungkusan di kereta api. Untunglah bungkusan itu dapat ditemukannya kembali. Sampailah ia ke rumah Momo, nasib sial pula yang menunggu karena Momo sedang tidak ada di rumah. Rencana pergi ke Cisompet, terpaksa harus diundur tiga hari.
Sebelum berangkat ke Cisompet, Emang dan Momo mampir ke rumah Dace di Garut. Berangkatlah mereka bertiga disertai Marhim pembantu Dace. Dari Garut ke Cikajang mereka naik delman. Dari Cikajang ke Cisompet mereka tmpuh dengan berjalan kaki karena memang tidak ada kendaraan apa pun, meskipun semula Dace telah berjanji bahwa mereka akan dijemput kuda-kuda tunggang. Ternyata naib sial pula yang ditemui mereka, kuda-kuda yang telah dijanjikan itu ternyata sudah dipakai rombongan “dalem” bupati yang mau berburu.
Tiba di Cisompet ternyata keluarga Dace pun sedang tidak ada di rumah. Ayahnya, seorang camat sedang ikut berburu dengan rombongan “dalem”, demikian pula ibunya sedang berada di pesanggrahan. Di rumah itu hanya ada seorang nenek ditemani Tarip seorang opas kecamatan. Sambil menanti datangnya malam dan mengurangi rasa kesal, mereka bermain menuju hutan tempat orang berburu badak. Di hutan itu hampir saja Emang dipatuk ular.
Keesokan harinya mereka merencanakan berangkat ke pantai naik kuda, tetapi kuda-kuda yang dijanjikan itu ternyata belum kembali dari perburuan. Mereka mencoba menunggang kuda lain yang ditangkap oleh opas kecamatan. Nasib sial pula yang didapat karena kuda yang satu masih perlu diajari dan tidak kuat ditunggangi.
Kira-kira pukul lima sore mereka baru sampai di Pameungpeuk setelah menempuh perjalanan jauh melewati hutan dan jalan yang naik turun. Sampailah mereka ke pantai Cilauteureun. Akibat kecapaian dan berbagai kesialan yang telah mereka alami dapat terbayar dengan keindahan ombak yang memecah, berkejaran menyusur pantai. Selepas Isya mereka baru kembali. Di perjalanan perut mereka terasa lapar, bekal telah habis, warungpun tiada karena memang jauh dari kampung.
Pagi harinya Emang dan Momo berpamitan mau pulang. Meskipun pribumi menahannya, tetapi mereka tetap memaksa ingin cepat kembali. Hari masih pagi, pada awal bulan puasa langka tersedia makanan untuk sarapan pagi. Untunglah embok Mandor masih punya nasi sisa yang sudah kering, bubuk ikan asin dan sambal, serta petai yang masih mentah. Makanlah mereka dengan lahapnya, licin tandas dibuatnya.
Di tengah perjalanan perut mereka teras tidak beres, sakit melilit. Semalaman mereka berjalan kaki dari Cisompet ke Cikajang sambil mata kepayahan menahan kantuk. Dari Bayongbong ke Garut mereka naik delman. Di sanalah mereka berpisah.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

PAYUNG BUTUT

Novel karangan Ahmad Bakri, diterbitkan oleh Cupumanik di Cirebon tahun 1968. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, tebal 61 halaman. Buku ini pernah terpilih sebagai salah satu naskah terbaik oleh IKAPI Jawa Barat.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan nilai-nilai pendidikan. Tinggi rendah kemuliaan seseorang menurut pengarang telah ditentukan oleh keturunan dan golongan darah serta ketinggian pangkat leluhurnya. Seseorang tidaklah pantas jika selalu menyombongkan diri dengan mebesar-besarkan kedudukan orang tuanya, yang digambarkan oleh pengarang dengan payung (payung kebesaran) yang padahal sudah butut (rusak). Novel ini menggambarkan suasana kehidupan dipedesaan, yang diungkapkan dengan penuh humor dalam dialog-dialog yang plastis dan enak dibaca.

Ringkasan Ceritera
Kedatangan Naib baru telah menjadi bahan pembicaraan orang sekampung karena Naib yang baru ini perilakunya berbeda sekali dengan Naib yang lama. Dia angkuh karena keningratan yang diwarisinya. Keangkuhannya itu semakin kentara karena justru istri dan anak-anaknya memiliki sifat-sifat yang rendah hati, peramah, suka menolong, dan tidak pernah membanggakan keningratannya itu.
Naib baru ini mempunyai seorang gadis remaja puteri. Siti Habibah namanya, berusia 17 tahun. Pada suatu haru, gadis remaja ini bertemu dengan Suganda, anak seorang kepala desa. Kedua remaja ini saling jatuh hati dan berniat untuk saling mengikat janji. Suganda mencoba melamarnya. Sayang lamaran itu ditolak Pak Naib karena Pak Naib tahu bahwa Suganda anak kepala desa, bukan keturunan ningrat. Menurut bapak Siti Habibah, tidaklah pantas anak rakyat mengawini anak ningrat.
Pada suatu hari di desa itu datang seorang juru tulis kewedanaan, R. Wiraatmaja namanya. Selang beberapa hari setelah ada kesempatan bertemu dengan Siti Habibah, dia jatuh hati pula padanya dan kemudian melamarnya. Dengan segala senang hati, Pak Naib menanggapi lamaran untuk anak gadisnya, semata-mata karena tertarik akan huruf R, yang dikiranya raden keturunan ningrat. Akan tetapi ketika Pak Naib bertanya tentang asal-usul keturunan. Ternayata Wiraatmaja itu bukan keturunan ningrat, lamaran yang kedua kali itu pun ditolak Pak Naib.
Pada suatu ketika Siti Habibah sakit berat. Dia menderita sakit usus buntu dan harus dirawat di rumah sakit. Dokter menasihatkan agar dia mau dioperasi. Untuk kelancaran operasi dan keselamatan operasi dan keselamatan pasien, dia harus ditransfusi darah. Darah dicari kepada para tetangga Pak Naib, barangkali ada yang bersedia menyumbangkan darahnya. Kesempatan ini dipergunakan oleh Samsu, kakak ipar Suganda, untuk membalas sakit hatinya akan perlakuan Pak Naib yang telah menghina dan merendahkan martabat saudaranya. Samsu mengatakan bahwa dia bukan tidak mau menolong Siti Habibah, akan tetapi apakah bisa darah rakyat disatukan dengan darah ningrat. Mendengar hal itu, Pak Naib sangat terpukul dan barulah menyadari bahwa darah manusia itu sebenarnya sama saja, tidak ada perbedaan antara darah rakyat dan darah ningrat. Pada saat yang kritis itu, Pak Naib menyatakan pengakuannya bahwa masalah darah dan keturunan itu bukanlah ukuran tinggi rendahnya kemuliaan manusia.
Setelah Siti Habibah mendapat pertolongan sumbangan darah dari pada tetangganya, termasuk darah Suganda, dia sembuh kembali. Akhirnya lamaran Suganda diterima Pak Naib, dan Siti Habibah pun menjadi istri Suganda.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

PEPENDEMAN NABI SULAEMAN

Novel terjemahan Mohamad Ambri dari buku King Salomon’S MineI karangan Ridder Haggard, cetakan pertamanya diterbitkan oleh Balai Pustaka tanpa tahun, cetakan kedua diterbitkan oleh Dua-R di Bandung, tahun 1966. buku ini terdiri atas dua jilid, masing-masing tebalnya 104 dan 115 halaman, berukuran 18 cm x 12 cm.
Novel ini menggambarkan petualangan serombongan orang kulit putih yang menempuh padang pasir, menembus hutan dan mendaki gunung-gunung yang menjulang tinggi. Buku ini melukiskan pula keadaan alam yang masih utuh di kawasan benua Afrika dengan adat-istiadat suku-suku yang mendiaminya penuh dengan keanehan dan keunikan.
Meskipun novel Pependeman Nabi Sulaeman ini berupa karya terjemahan, tetapi seperti umumnya karya-karya Mohamad Ambri, novel ini menggunakan pilihan dan pengolahan kata yang mudah dipahami dan enak dibaca. Kecuali nama-nama orang, nama-nama tempat, dan keadaan alam serta adat istiadat yang berbeda, suasana terjemahan tidak begitu terasa. Pengarang sangat mahir menggunakan bahasa dan suasana Sunda.

Ringkasan Ceritera
Allan Kuatermin adalah seorang pemburu berpengalaman luas berasal dari Durban, Natal, kawasan Afrika Selatan. Setelah dia cedera diterkam singa, dia beralih pekerjaan menjadi saudagar.
Pada suatu hari dia bertemu dengan Sir Henry Kurtis dan Kapten Gud. Setelah mereka bertiga berembug, mereka sepakat untuk berangkat bersama mencari gudang intan. Keikutsertaan Sir Henry Kurtis bukan semata-mata karena tergiur oleh harapan memperoleh intan yang banyak, tetapi ia bermaksud mencari adiknya yang bernama Jores yang menurut khabar dia juga sedang pergi berkelana mencari gudang intan.
Berkat keuletan mereka, akhirnya mereka sampai ke daerah gunung Sheba di wilayah kekuasaan kerajaan Kukuana. Para prajurit Kukuana mau menangkap rombongan Allan Kuatermin, tetapi karena kelihaian Kapten Gud mereka dapat dihadapkan ke depan raja Kukuana, Tewala.
Raja Tesala terkenal sangat pemberang, kesenangannya membunuh orang. Tewala dapat memegang kekuasaan itu setelah berhasil menggulingkan kakaknya sendiri yang waktu itu menjadi raja. Raja yang dibunuh itu mempunyai seorang anak laki-laki, tetapi pada waktu terjadi pembunuhan itu, anak itu tiba-tiba menghilang. Pada saat itu salah seorang pembantu Allan Kuatermin, seorang negro, Umbopa namanya menerangkan bahwa dialah si anak raja yang hilang itu.
Peperangan pun segera berkobar antara pasukan yang pro Umbopa sebagai pewaris kerajaan dengan pasukan raja Tewala. Akhirnya, pasukan raja Tewala terdesak dan Tewala sendiri dibunuh oleh Sir Henry Kurtis. Umbopa naik takhta menjadi raja Kukuana yang baru.
Setelah penobatan Raja Umbopa, rombongan Allan Kuatermin melanjutkan perjalanan mencari gudang intan. Sampailah mereka ke sebuah gua yang didalamnya terdpat intan dan emas. Akan tetapi, mereka terkurung di dalam gua itu. Walaupun pada akhirnya mereka dapat juga meloloskan diri, tetapi harta karun yang dapat dibawa hanya sedikit. Di tengah perjalanan pulang, mereka berjumpa dengan Jones, adik Sir Henry Kurtis yang dicari-cari itu. Alangkah bahagia hati Sir Henry Kurtis dapat bertemu dengan adik yang sudah lama dirindukannya.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

RASIAH NU GORENG PATUT

Karnadi Anemer Bangkong
Sebuah novel yang dikarang oleh Sukria-Yuhana (berdua). Buku itu diterbitkan di Bandung tahun 1928 oleh penerbit Dakhlan Bekti. Cetakan kedua oleh penerbit Kiwari, Bandung, tahun 1963. di bawah judul buku tertulis judul kedua, dalam kurung Karnadi Anemer Bangkong (Karnadi Anemer Kodok). Karnadi adalah tokoh utama ceritera itu. Ia seorang pedagang kodok yang mengaku sebagai anemer (pemborong bangunan). Sandiwara-sandiwara rakyat diketahui sering mementaskan cerietera ini, dengan mempergunakan judul yang kedua.
Bagaimana pelaksanaan penulisan novel Rasiah Nu Goreng Patuti (rahasia si buruk rupa) ini dikarang berdua, agak sulit diterka, kecuali apabila dihubungkan dengan Romns Bureau Joehana yang membuka usaha pekerjaan penulisan naskah. Dengan bantuan ini, diduga bahwa sinopsis ceritera berasal dari Sukria, sedangkan penulisan sepenuhnya oleh Yuhana. Hal itu jelas dari ceritera itu secara keseluruhan, yang tidak menunjukan adanya pergantian gaya bahasa serta sejalan dengan keterangan yang tertulis dalam jilid buku yang menyebutkan “disangling” (digosok, dihaluskan) oleh Yuhana. Corak tema pun mirip dengan karangan-karangan Yuhana yang lainnya (bandingkan dengan Iskandarwassid, 1979). Di samping dugaan itu, nama Sukria akan mengingatkan kita pada tokoh sanjungan Yuhana dalam novel Carios Eulis AdihI yang bernama Sukria pula.

Ringkasan Ceritera
Dua orang yang bersahabat akrab bernama Karnadi dan Marjum. Mereka tinggal di kampung Cijawura, desa Buahbatu, di sebelah selatan kota Bandung. Mereka hidup dari hasil mencari kodok hijau yang kemudian dijualnya kepada orang-orang Cina di pasar kota.
Karnadi yang boleh dikatakan hidup serba kurang serta bertampang tidak menarik itu, ternyata memendam sebuah keinginan yang keras untuk mempunyai istri muda yang cantik. Pilihan calon istri muda itu jatuh kepada Nawangsih atau Eulis Awang. Karnadi melihat janda muda yang cantik itu di tenga keramaian pasar. Ia berkeras mempertahankan niatnya waktu Marjum memperingatkan agar Karnadi menginsafi keadaan diri dan keluarganya.
Ketika dilihatnya Eulis Awang pulang naek delman, Karnadi mengikutinya, naek delman pula; sampai diketahuinya bahwa wanita tadi anak orang kaya. Karnadi mulai mengatur siasatnya. Ia menyuruh Marjum meminjam pakaian selengkapnya kepada Raden Sumtama, seorang anemer (pemborong) kaya dan terkenal. Di samping itu, Marjum dimintanya pula untuk menyampaikan kabar bohong kepada istrinya bahwa Karnadi tertabrak mobil. Siasat ini untuk mencari alasan mengapa dia tidk pulang, terutama agar istrinya mau menjual ayam peliharaannya yang Cuma seekor untuk biaya pengobatan di rumah sakit.
Usni, istri Karnadi, lupa akan kebingungan sendiri ketika mendengar berita itu dari Marjun. Sambil bergelimang perasaan khawtir akan keadaan suaminya, ia melaksanakan apa yang dipesankannya. Setelah itu, Marjun berhasil pula memperoleh pinjaman pakaian Raden Sumtama.
Karnadi datang meminang dengan mengaku diri Raden Sumtama, yang kini hidup sendiri karena baru beberapa bulan saja istrinya meninggal. Mas Sura, ayah Eulis Awang, menerimanya karena kuatnya impian bahwa segala harta kekayaan Raden Sumtama yang berlimpah itu nantinya akan jatuh ke tangan anaknya, Eulis Awang pun ternyata tidak menolak bujukan ayah dan ibunya itu, sekalipun hatinya mula-mula merasa kurang senang untuk menerima karena melihat tampang calon suaminya itu. Namun, khabar tentang kekayaan dan kepandaian anemer itu telah membungkam bisikan hatinya. Sebelum pernikahan disahkan, keduanya telah bergaul seperti pengantin.
Usni yang ditinggalkan baru beberapa hari ternayata harus menanggung kepahitan hidup sendirian. Seorang anaknya meninggal karena sakit tidak berobat. Akhirnya bersama kedua anaknya yang lain, ia berangkat untuk menjenguk suaminya di rumah sakit Rancabadak. Di sana ia beroleh keterangan dari salah seorang tukang sapu halaman bahwa nama Karnadi telah mati dan sudah dikuburkan karena tidak ada seorangpun yang mengaku keluarganya.
Ketika mereka berhenti di pinggir jalan sambil makan, seorang anaknya melihat dan melambai-lambai kepada Karnadi yang sedang naik mobil, duduk berdampingan dengan istri mudanya. Ketika Eulis Awang mengatakan rasa kasihannya kepada perempuan dan kedua anaknya itu, Karnadi mengatakan bahwa tiada gunanya mengasihi orang gila, anaknya pun rupanya gila pula.
Kata-kata Karnadi itu terdengar oleh Marjum, yang mendadak membangkitkan amarahnya. Secara bisik-bisik Marjum mengajak Karnadi pulang ke kampungnya dan mengancam apabila ia menolak. Setelah berdalih dan meminta uang kepada Eulis Awang, Karnadi berangkat bersama Marjum. Oleh-oleh yang dibawanya, berupa pakaian, ternyata tidak menggembirakan hatinya karena ditemuinya istrinya sudah sakit membatu, tidak dapat diajak bicara lagi. Anaknya yang bungsu telah meninggal pula.
Akhirnya, sampailah Karnadi pada kehidupan yang lebih menyedihkan. Eulis Awang pun akhirnya mendapat malu setelah mengetahui penipuan itu. Karnadi menutup riwayat hidupnya dengan menghanyutkan diri ke Sungai Citarum yang sedang membanjir.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

R I N I

Novel karangan Yoseph Iskandar, diterbitkan oleh Pusaka Dasentra di Bandung tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 99 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan pendidikan. Pacaran dengan adik ipar menimbulkan cerai dengan istri dan dikeluarkan sebagai karyawan. Orang yang berkorban demi kebaikan dapat balasan yang lebih baik. Novel ini menggambarkan penderitaan akibat ulah sendiri.

Ringkasan Ceritera
Akibat Lina keterlaluan dikekang orang tuanya, akhirnya berumah tangga dengan Yudi, tetapi tidak harmonis. Yudi pulang menengok ibunya yang sakit, setelah menerima telepun. Lina tidak ikut sebab lebih penting arisan.
Rini adik Lina dilatih drama oleh Yudi. Lina cerai dengan Yudi sudah dalam pembicaraan. Senyum Rini semakin memikat asmara Yudi. Rini sebenarnya pacar Wandi, tetapi seusai drama Rini melihat Wandi berpacaran dengan Sri Asturi. Rini minta pulang dan diantar Yudi. Sampai di rumah orang tua dan tetngganya sedang tidak ada. Dalam kegelapan bangkit asmara Yudi dan Rini. Yudi dan Rini saling mencintai.
Yudi jatuh sakit. Hubungannya dengan Rini, Yudi ceritakan pada Lina. Lina minta cerai. Lina dicerai oleh Yudi. Rini memutuskan cintanya pada Yudi setelah mendapat berita dari Lina tentang hubungan Lina dengan Yudi.
Dalam keadaan sakit datang Wandi yang hendak menolong Yudi dengan cara menyarankan Rini harus dapat mengobati Yudi. Lina, Farid dan Rini mendatangi Yudi yang masih sakit untuk menanyakan cinta Yudi pada Lina. Lina akan kawin dengan Drs. H. Farid Hanafiah Ibrahim.
Akan nikah Lina dengan Drs. H. Farid Hanafiah Ibrahim berlangsung pukul 09.00. pada saat yang sama Yudi menerima surat, Yudi dikeluarkan sebagai karyawan majalah Panggung Indonesia.
Dengan menggunakan sisa uang pesanggon, Yudi menulis novel yang berjudul Rini dan dapat ditrbitkan. Yudi marah-marah akan nasibnya.
Novel yang berjejer di atas bupet dipukuli, keadaan menjadi berantakan. Sambil melamun, Yudi menatap novel yang ditampar ke arah pintu. Di samping ada betis yang berdiri, dia adalah Rini yang datang. Yudi bersalaman dengan Rini.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986

SI LAMSIJAN KAEDANAN

Novel karangan Ki Umbara, diterbitkan oleh Pustaka Dasentra di Bandung tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 68 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan pendidikan. Cinta orang miskin dan tunarupa tidak mendapat balasan dari orang kaya dan cantik walaupun menggunakan berbagai usaha. Orang yang telah mendapat ajaran agama Islam dan menghargai ibu (orang tua) mendapat kesenangan. Novel ini menggambarkan kesedihan akibat cinta yag tidak tercapai, yang diungkapkan dengan romantis, humoris, dan enak dibaca.

Ringkasan Ceritera
Lamsijan terus terang kepada ibunya jatuh cinta pada Amoy, anak Babah Tan A Sien, tetapi ibunya tidak merestui sebab Amoy kapir dan Lamsijan sendiri orang miskin yang berwajah bopeng akibat serangan penyakit cacar.
Lamsijan melihat Amoy sedang mandi di kali yang membuatnya tergila-gila pada amoy. Lamsijan minta asihan pada Ua Dukun agar dapat menikah dengan Amoy.
Cepleu, wanita pembantu Amoy, yang berbadan dan berupa jelek berjuang untuk mendapatkan cinta Lamsijan. Apalagi setelah guna-guna Lamsijan yang ditujukan kepada Amoy kena pada Cepleu. Cepleu semakin cinta kepada Lamsijan. Lamsijan memasang guna-guna untuk membuat Cepleu tidak senang pada Lamsijan.
Lamsijan minta asihan kepada Mama Kiai, sehingga Amoy dapat bersujud dipelukan Lamsijan. Tetapi Amoy yang cantik itu dibawa Tuan Opsir semalaman dari rumah Lamsijan, ketika Lamsijan pergi ke pos ronda. Lamsijan sedih sekali. Di rumah Lamsijan, Cepleu ditinggalkan Amoy. Menurut permintaan ibunya Lamsijan kawin dengan Cepleu.
Lamsijan yang malas ketika istrinya mengidam, mulai usaha dagang. Lamsijan mendapat bantuan modal dari Tan A Sen sebagai rasa terimakasih pada Lamsijan, yang telah menyelamatkan Amoy waktu rumahnya dibakar.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986